Selasa, 06 November 2012

Benarkah Syiah Mengikuti Ahlulbait

0 komentar

Benarkah Syiah Mengikuti Ahlulbait?

Saif Al Battar
Ahad, 5 Desember 2010 22:42:43
Syiah selalu menukil hadits tsaqalain, demi menegaskan wajibnya mengikuti ahlulbait. Tapi apakah syiah konsekuen dengan ucapannya sendiri? Ini yang perlu kita teliti.
Mengikuti Al Qur’an adalah dengan mengikuti perintah yang ada di dalamnya, dan menjauhi larangannya. Itulah mengikuti. Begitu juga dengan mengikuti ahlulbait, dengan mengikuti perintah mereka, dan menjauhi apa yang mereka larang. 
Al Qur’an ada di depan kita, dapat kita baca setiap hari. Dengan mudah kita mengakses perintah dan larangan. Tetapi ahlulbait,  mereka telah pergi meninggalkan kita. 11 imam telah pergi menghadap Allah, sementara yang ke 12 malah pergi bersembunyi, meninggalkan tugasnya untuk menjaga syareat, meninggalkan fungsinya sebagai penerus Nabi Muhammad SAWW.  Bagaimana caranya mengakses perintah ahlulbait?
Kitab syiah memiliki kitab-kitab yang memuat riwayat dari para imam mereka. Dengan kitab-kitab itulah mereka bisa mengikuti ahlulbait.
Tentunya tidak semua riwayat bisa diterima begitu saja, tapi harus ada proses penelitian mengenai validitas perawi, apakah cacat atau valid. Dari situ bisa diketahui mana riwayat yang shahih maupun yang dhaif.
Jika sebuah riwayat dari seorang imam terbukti shahih, maka harus diikuti, karena riwayat itu memuat sabda imam yang maksum –menurut syiah-, imam yang terbebas dari salah dan lupa. Sabdanya memiliki kekuatan hukum yaitu wajib diikuti. Inilah inti hadits tsaqalain, yaitu perintah untuk mengikuti ahlulbait.

Tetapi apa yang terjadi?
Ketika sebuah riwayat shahih dari imam maksum menyelisihi pendapat ulama syiah, mereka mengambil pendapat ulama syiah dan meninggalkan riwayat dari imam maksum. Seolah-oleh yang maksum di sini adalah para ulama syiah, bukan 12 imam ahlulbait. Ahlulbait tidak lagi maksum ketika ada sabdanya yang menyelisihi ulama syiah.
Al Isytahardi menyatakan dalam Taqrirat Fi Ushulil Fiqh- Taqrir Bahts Al Burjuwardi, hal 296 :
Dari sini terkenal sebuah kaedah, bahwa ketika sebuah riwayat semakin shahih, maka derajatnya semakin dhaif dan meragukan ketika riwayat itu ditinggalkan oleh ulama kami, dan sebaliknya, ketika riwayat semakin dhaif tapi diamalkan oleh ulama kami, maka akan semakin kuat, seperti dalam masalah yang ditunjukkan…
Kesimpulannya, ucapan para imam ditentukan oleh sikap ulama syiah terhadap riwayat itu. Ketika sabda para imam menyelisihi keinginan ulama syiah, maka yang harus diikuti adalah keinginan ulama syiah, bukan lagi sabda imam ahlulbait. Apakah berarti ahlulbait sudah keluar dari tsaqalain yang harus diikuti, dan digantikan oleh ulama syiah?
Mirza Al Qummi dalam Ghana’imul Ayyam jilid 1 hal 414 menyatakan :
Riwayat-riwayat ini, ketika semakin banyak jumlah, sanad dan dilalahnya, ketika ditinggalkan oleh kebanyakan ulama kami, maka akan semakin bertambah dhaif (lemah), apalagi ketika para ulama malah mengamalkan hadits yang jumlahnya lebih sedikit, sanadnya dan dilalahnya lebih sedikit.
Sementara Sayyid Al Kalbaikani dalam Durr al Mandhud jilid 1 hal 330-331 mengatakan:
Tetapi pendapat yang dikenal dan digunakan oleh kebanyakan ulama, dan kami pun memegang pendapat itu, yaitu sebuah riwayat tidak lagi digunakan karena hal tadi, dan telah masyhur bahwa ketika hadits semakin shahih sanadnya, maka akan bertambah lemah karena tidak digunakan oleh kebanyakan ulama, semakin sebuah hadits lemah sanadnya, maka akan semakin kuat karena diamalkan oleh kebanyakan ulama
Dalam Kitab At Thaharah jilid 3 hal 597, Sayyid Al Khomeini menyatakan:
Mencegah kita untuk memaksakan pendapat karena terpesona oleh riwayat yang shahih lagi banyak, dalam konteks ini dikatakan: semakin riwayat itu banyak dan shahih, maka semakin lemah
Dalam Muntahal Ushul  jilid 2 hal 154, Hasan bin Ali Asghar Al Musawi Al Bajnawardi menyatakan:
Dan begitu juga, ketika ulama mengabaikan dan tidak mengamalkan riwayat, maka ini membuat dalil itu tidak lagi dijadikan hujjah, meski riwayat itu shahih, sampai ulama syiah mengatakan : semakin riwayat itu shahih, maka semakin lemah, inilah maksud ucapan para ulama: ketika ulama meninggalkan sebuah riwayat, itu membuat sanad riwayat itu tidak dipercaya, dan mematahkan riwayat itu, meski riwayat itu sanadnya kuat.
Begitu pula dalam Al Yanabi’ Al Fiqhiyyah jilid 35 hal 441, Ali Asghar Marwarid mengatakan :
Al Murtadha mengatakan : riwayat ini shahih, tetapi ketenaran itu sendiri adalah riwayat dan fatwa, bahkan ijma’ pun menentang riwayat itu.
Lalu apa lagi gunanya adalah penelitian hadits, jika hadits yang shahih bisa digugurkan oleh ulama?
Sebenarnya siapa yang menjadi panutan syiah? Imam maksum atau ulama syiah yang tidak maksum?
Apa gunanya imam maksum jika ucapannya dapat digugurkan oleh ulama-ulama syiah yang tidak maksum?
Syiah selalu berdalil dengan hadits tsaqalain, namun di saat yang sama syiah membuangnya jauh-jauh.


Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Bertahun-tahun silam pernah diadakan diskusi antara seorang Ustadz dari PP Persis Bandung dengan Jalaluddin Rahmat (tokoh Syiah asal Bandung). Dalam makalahnya, Ustadz Persis itu tanpa tedeng aling-aling membuat kajian berjudul, “Syiah Bukan Bagian dari Islam”.
Ketika sessi dialog berlangsung, Ustadz Persis itu -dengan pertolongan Allah- mampu mematahkan argumen-argumen Jalaluddin Rahmat. Kejadiannya mirip, ketika dilakukan diskusi di Malang antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz-ustadz Persis Bangil; ketika merespon lahirnya buku Islam Aktual, karya Jalaluddin Rahmat.
Ada satu momen penting menjelang akhir diskusi di Bandung itu. Saat itu Jalaluddin mengatakan, “Kalau memang Syiah dianggap sesat dan bukan bagian dari Islam, mengapa Pemerintah Saudi masih memperbolehkan kaum Syiah menunaikan Haji ke Tanah Suci?” Nah, atas pernyataan ini, tidak ada tanggapan serius dari para Ustadz di atas.
Ternyata, Mereka Masih Butuh Tanah Suci (Makkah & Madinah).
Dan ternyata, kata-kata serupa itu dipakai oleh Prof. Dr. Umar Shibah, tokoh Syiah yang menyusup ke lembaga MUI Pusat. Ketika kaum Syiah terdesak, dia mengemukakan kalimat pembelaan yang sama. “Kalau Syiah dianggap sesat, mengapa mereka masih boleh berhaji ke Tanah Suci?”
Lalu, bagaimana kalau pertanyaan di atas disampaikan kepada Anda-Anda semua wahai, kaum Muslimin? Apa jawaban Anda? Apakah Anda akan memberikan jawaban yang tepat, atau memilih menghindar?
Sekedar catatan, konon dalam sebuah diskusi antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz M. Thalib (sekarang Amir MMI). Saat disana ada kebuntuan argumentasi, katanya Ustadz M. Thalib menantang Jalaluddin melakukan “diskusi secara fisik” di luar. Ya, ini sekedar catatan, agar kita selalu mempersiapkan diri dengan argumen-argumen yang handal sebelum “bersilat” pemahaman dengan orang beda akidah.
Mengapa kaum Syiah masih boleh masuk ke Tanah Suci, baik Makkah Al Mukarramah maupun Madinah Al Munawwarah?
Mari kita jawab pertanyaan ini:
PERTAMA, sebaik-baik jawaban ialah Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Tahu sebenar-benar alasan di balik kebijakan Pemerintah Saudi memberikan tempat bagi kaum Syiah untuk ziarah ke Makkah dan Madinah.
KEDUA, dalam sekte Syiah terdapat banyak golongan-golongan. Di antara mereka ada yang lebih dekat ke golongan Ahlus Sunnah (yaitu Syiah Zaidiyyah), ada yang moderat kesesatannya, dan ada yang ekstrim (seperti Imamiyyah dan Ismailiyyah). Terhadap kaum Syiah ekstrim ini, rata-rata para ulama tidak mengakui keislaman mereka. Nah, dalam praktiknya, tidak mudah membedakan kelompok-kelompok tadi.
KETIGA, usia sekte Syiah sudah sangat tua. Hampir setua usia sejarah Islam itu sendiri. Tentu cara menghadapi sekte seperti ini berbeda dengan cara menghadapi Ahmadiyyah, aliran Lia Eden, dll. yang termasuk sekte-sekte baru. Bahkan Syiah sudah mempunyai sejarah sendiri, sebelum kekuasaan negeri Saudi dikuasai Dinasti Saud yang berpaham Salafiyyah. Jauh-jauh hari sebelum Dinasti Ibnu Saud berdiri, kaum Syiah sudah masuk Makkah-Madinah. Ibnu Hajar Al Haitsami penyusun kitab As Shawaiq Al Muhriqah, beliau menulis kitab itu dalam rangka memperingatkan bahaya sekte Syiah yang di masanya banyak muncul di Kota Makkah. Padahal kitab ini termasuk kitab turats klasik, sudah ada jauh sebelum era Dinasti Saud.
KEEMPAT, kalau melihat identitas kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, ya rata-rata tertulis “agama Islam”. Negara Iran saja mengklaim sebagai Jumhuriyyah Al Islamiyyah (Republik Islam). Revolusi mereka disebut Revolusi Islam (Al Tsaurah Al Islamiyyah). Data seperti ini tentu sangat menyulitkan untuk memastikan jenis sekte mereka. Lha wong, semuanya disebut “Islam” atau “Muslim”.
KELIMA, kebanyakan kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, mereka orang awam. Artinya, kesyiahan mereka umumnya hanya ikut-ikutan, karena tradisi, atau karena desakan lingkungan. Orang seperti ini berbeda dengan tokoh-tokoh Syiah ekstrem yang memang sudah dianggap murtad dari jalan Islam. Tanda kalau mereka orang awam yaitu kemauan mereka untuk datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah itu sendiri. Kalau mereka Syiah ekstrim, tak akan mau datang ke Tanah Suci Ahlus Sunnah. Mereka sudah punya “tanah suci” sendiri yaitu: Karbala’, Najaf, dan Qum. Perlakuan terhadap kaum Syiah awam tentu harus berbeda dengan perlakuan kepada kalangan ekstrim mereka.
KEENAM, orang-orang Syiah yang datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah sangat diharapkan akan mengambil banyak-banyak pelajaran dari kehidupan kaum Muslimin di Makkah-Madinah. Bila mereka tertarik, terkesan, atau bahkan terpikat; mudah-mudahan mau bertaubat dari agamanya, dan kembali ke jalan lurus, agama Islam Ahlus Sunnah.
KETUJUH, hadirnya ribuan kaum Syiah di Tanah Suci Makkah-Madinah, hal tersebut adalah BUKTI BESAR betapa ajaran Islam (Ahlus Sunnah) sesuai dengan fitrah manusia. Meskipun para ulama dan kaum penyesat Syiah sudah bekerja keras sejak ribuan tahun lalu, untuk membuat-buat agama baru yang berbeda dengan ajaran Islam Ahlus Sunnah; tetap saja fitrah mereka tidak bisa dipungkiri, bahwa hati-hati mereka terikat dengan Tanah Suci kaum Muslimin (Makkah-Madinah), bukan Karbala, Najaf, dan Qum.
KEDELAPAN, kaum Syiah di negerinya sangat biasa memuja kubur, menyembah kubur, tawaf mengelilingi kuburan, meminta tolong kepada ahli kubur, berkorban untuk penghuni kubur, dll. Kalau mereka datang ke Makkah-Madinah, maka praktik “ibadah kubur” itu tidak ada disana. Harapannya, mereka bisa belajar untuk meninggalkan ibadah kubur, kalau nanti mereka sudah kembali ke negerinya. Insya Allah.
KESEMBILAN, pertanyaan di atas sebenarnya lebih layak diajukan ke kaum Syiah sendiri, bukan ke Ahlus Sunnah. Mestinya kaum Syiah jangan bertanya, “Mengapa orang Syiah masih boleh ke Makkah-Madinah?” Mestinya pertanyaan ini diubah dan diajukan ke diri mereka sendiri, “Kalau Anda benar-benar Syiah, mengapa masih datang ke Makkah dan Madinah? Bukankah Anda sudah mempunyai ‘kota suci’ sendiri?”
Demikian sebagian jawaban yang bisa diberikan. Semoga bermanfaat. Pesan spesial dari saya, kalau nanti Prof. Dr. Umar Shihab, atau Prof. Dr. Quraish Shihab (dua tokoh ini saudara kandung, kakak-beradik; bersaudara juga dengan Alwi Shihab, Mantan Menlu di era Abdurrahman Wahid), beralasan dengan alasan tersebut di atas; mohon ada yang meluruskannya. Supaya beliau tidak banyak membuang-buang kalam, tanpa guna.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
[Abahnya Syakir].
Be the first to like this.

Navigasi tulisan

42 Respon untuk Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?

  1. Ali Reza mengatakan:
Ahmadinejad itu awam atau ekstrim?
  1. kanzunQALAM mengatakan:
WaLlahu a’lamu bishshawab…
jangan terlalu mudah, untuk mengkafirkan sesama muslim…
  1. iwan mengatakan:
Yang jelas Ahlus sunah mencintai rasul dan juga seluruh keluarganya
  1. labkom01 mengatakan:
hmmmmm
  1. banyugeni mengatakan:
halah jawaban tanpa isi,dan hanya mengada ada dasar kepentingan anti syiah.yg jelas syiah extrim dan dinasti saud+wahaby sama sama keblinger.
  1. abisyakir mengatakan:
@ Banyugeni…
Halah jawaban tanpa isi, dan hanya mengada ada dasar kepentingan anti syiah.yg jelas syiah extrim dan dinasti saud+wahaby sama sama keblinger.
Trus yang dinamakan “ada isi” itu macam mana? Apa seperti komentar Anda yang tidak bermutu ini? Apakah itu yang dinamakan “ada isinya”? Ironis sekali…
AMW.
  1. Yeni sukmawaty mengatakan:
Jadi prof dr qurais sihab ini org syiah to? Walah..knp dia suka ngisi kultum di tv? Pdhl sy suka dengerin ceramahnya lho..astaghfirlloh…org awam spt sy memang hrs bnyk belajar lg..jazakalloh ilmunya
  1. Airell Tuffliado mengatakan:
Terhadap keluarga Shihab maupun Jalaludin Rahmat menurut saya mereka bukan Syi’ah, namun cukup pro dan memiliki afiliasi terhadapnya..
Semoga mereka yang menjual DiinuLlah dengan harga murah Allah tawbatkan mereka sebelum waktu kepastian tempat mereka di akhirat..
  1. abisyakir mengatakan:
@ Yeni Sukmawaty…
Hati-hati Bu Yeni terhadap Quraisy Shihab. Dia menulis kitab tafsir Al Misbah. Salah satu rujukan penting dalam penulisan tafsir itu adalah kitab tabsir At Thabthaba’i, seorang ulama Syiah. Tidak mungkin orang yang concern dengan Sunnah akan memakai kitab seperti itu sebagai rujukan. Lihat pengantar tafsir Al Misbah karangan Quraisy Shihab.
Jazakillah jaza’an hasana.
AMW.
  1. abisyakir mengatakan:
@ Airell…
Terhadap keluarga Shihab maupun Jalaludin Rahmat menurut saya mereka bukan Syi’ah, namun cukup pro dan memiliki afiliasi terhadapnya…
Komentar Anda ini aneh. Orang seperti itu tidak disebut Syiah, lalu yang seperti apa lagi yang mesti disebut Syiah? Jalaluddin Rahmat itu bahkan disebut-sebut sebagai amir Syiah Asia Tenggara. Ah..sudahahlah, Anda kalau kurang tahu masalah, jangan berkomentar macam-macam. Jadi seperti kebiasaan kaum Syiah, sering menyembunyikan diri di balik “retorika lembut”.
AMW.
  1. Daus mengatakan:
@abisyakir
masalahnya sekarang yg jd ganjalan Zionis mendirikan Israel Raya tinggal Syiah (Iran dan Hizbullah) serta Hamas yg didukung syiah (lihat tayangan dari MEMRI TV dmn PEMIMPIN HAMAS berceramah di Iran http://www.youtube.com/watch?v=fqSGxfjtkhI )
klw Syiah hancur, berati terwujud dunk Israel Raya, fakta negara2 mayoritas MUSLIM lainnya kan hanya banyak bicara tanpa TINDAKAN, klw gitu mari kita berdoa semoga ISRAEL RAYA terwujud krn dgn begitu Syiah sudah musnah atau sudah bukan lagi menjd ancaman dunk…
Pd kmn y negara2 mayoritas SUNNI?bukankah ZIONIS jk sampai mendirikan ISRAEL RAYA jg merupakan BENCANA BESAR
saya lahir dari keluarga murni sunni (keluarga aktifis Muhammadiyah, NU, Masyumi dll), tinggal dilingkungan sunni, awalnya dari kecil sudah mendengar fitnahan lebih hebat ttg syiah, klw syiah itu menyembah ALI hingga Nabi nya ALI, dan ternyata semua itu dusta (krn fitnahannya berubah2 terus), saat ini jg ragu klw semua itu hanya FITNAH saja..
punya berita yg lebih dahsyat lg gak???
  1. abisyakir mengatakan:
@ Daus…
Masalahnya sekarang yg jd ganjalan Zionis mendirikan Israel Raya tinggal Syiah (Iran dan Hizbullah) serta Hamas yg didukung syiah (lihat tayangan dari MEMRI TV dmn PEMIMPIN HAMAS berceramah di Iran http://www.youtube.com/watch?v=fqSGxfjtkhI).
Komentar: Ya, tidak begitu amat Pak. Masak hanya dari satu dua tayangan video, Anda bisa men-judgement masalah sebesar itu. Ini sangat prematur. Lho, dalam sejarah, apa Anda pernah mendengar Iran atau Hizbullah melakukan peperangan terbuka melawan Zionis? Yang berperang sejak dulu kan bangsa Arab. Sampai ada istilah Perang Arab-Israel. Kalau serangan2 sporadis, iya memang ada serangan Hizbullah. Tetapi faksi-faksi Mujahidin Islam Ahlus Sunnah kan jauh lebih banyak sejarahnya ketimbang Hizbullah. Disana ada Hamas, Jihad Islam, Fatah, Al Qa’idah, dan lain-lain.
Anda jangan mengada-ada dengan membuat asumsi aneh-aneh. Yang melawan Zionis Israel itu seluruh kaum Muslimin Ahlus Sunnah Pak. Kalau Iran kan biasanya berupa “serangan retorika” sekedar untuk menunjukkan bahwa mereka “anti Israel”. Padahal di Iran sendiri, orang Yahudi sangat banyak. Mereka aman berada di Iran. Mereka dilindungi luar biasa. Sedangkan kaum Sunni di Iran dibabat habis.
Klw Syiah hancur, berati terwujud dunk Israel Raya, fakta negara2 mayoritas MUSLIM lainnya kan hanya banyak bicara tanpa TINDAKAN, klw gitu mari kita berdoa semoga ISRAEL RAYA terwujud krn dgn begitu Syiah sudah musnah atau sudah bukan lagi menjd ancaman dunk…
Komentar: Halah, logika yang dibuat-buat. Tidak ada realitasnya. Para Mujahidin Islam selama ini banyak kok reputasinya dalam Jihad melawan Zionis Israel. Banyak sekali para syuhada (insya Allah) Sunni yang sudah wafat dalam pertempuran itu, baik mereka dari Palestina atau negeri-negeri Islam lain. Justru kalau Anda membaca tanda-tanda menjelang Hari Kiamat, nanti dajjal laknatullah ‘alaih akan muncul dari Isfahan (Iran). Maka itu tak aneh kalau banyak orang Yahudi kini bermukim di Iran, dalam rangka menyambut datangnya si terkutuk dajjal.
Saya lahir dari keluarga murni sunni (keluarga aktifis Muhammadiyah, NU, Masyumi dll), tinggal dilingkungan sunni, awalnya dari kecil sudah mendengar fitnahan lebih hebat ttg syiah, klw syiah itu menyembah ALI hingga Nabi nya ALI, dan ternyata semua itu dusta (krn fitnahannya berubah2 terus), saat ini jg ragu klw semua itu hanya FITNAH saja.. punya berita yg lebih dahsyat lg gak???
Komentar: Ya, suatu saat, kalau militansi kesyiahan Anda sudah semakin menebal, Anda akan mendapati keyakinan-keyakinan syirik itu. Hanya soal waktu saja. Sudahlah…Anda tidak usah beralasan dengan background yang “Sunni murni”. Tidak usah begitu. Ahlus Sunnah selalu mulia dan tidak bisa diciderai oleh perilaku manusia yang sering berubah-ubah.
Ya kita semua paham, bahwa dalam agama Syiah, segala hawa nafsu manusia bisa diwadahi sebaik-baiknya. Hal-hal yang dilarang dalam agama, disana bisa dihalalkan semua. Ya maklum, dalam agama seperti itu yang diibadahi hanyalah HAWA NAFSU manusia, bukan tuntunan agama Allah.
Semoga Allah memberi Anda petunjuk “jalan pulang”. Sebelum, nilai hidup Anda tidak berharga sama sekali, di Mata Allah, manusia, dan alam. Nas’alulllah al ‘afiyah.
AMW.
  1. List Artikel Seputar Syiah (Rafidhah) « Pustaka LANGIT BIRU mengatakan:
[...] [d]. Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci? [...]
  1. Dafa Sani mengatakan:
Saya tertarik dengan pertanyaan yg satu ini : “Kalau Anda benar-benar Syiah, mengapa masih datang ke Makkah dan Madinah? Bukankah Anda sudah mempunyai ‘kota suci’ sendiri?”
Kalau saya yang dipersangkakan sebagai syiah maka akan saya jawab begini : Justru dengan diijinkannya kami memasuki kota Mekkah ini membuktikan bahwa kami tetaplah merupakan bagian dari kaum muslimin dan adalah sikap inkonsistensi bagi kalian sendiri yg memfatwakan bahwa syiah berada diluar Islam pada satu sisi dan pada sisi yang lain pemerintah Saudi sendiri masih menerapkan kebijakan akan bolehnya orang2 syiah melaksanakan ibadah haji.
Dan ini sekali gus membuktikan bahwa “wibawa” fatwa tersebut ternyata tak memiliki nilai dimata pemerintah Saudi sendiri, apatah lagi diluar batas jazirah.
  1. abisyakir mengatakan:
@ Dafa Sani…
Justru dengan diijinkannya kami memasuki kota Mekkah ini membuktikan bahwa kami tetaplah merupakan bagian dari kaum muslimin dan adalah sikap inkonsistensi bagi kalian sendiri yg memfatwakan bahwa syiah berada diluar Islam pada satu sisi dan pada sisi yang lain pemerintah Saudi sendiri masih menerapkan kebijakan akan bolehnya orang2 syiah melaksanakan ibadah haji.

Komentar: Masalahnya rumit. Orang-orang Syiah di Iran, dalam kartu identitasnya tertulis agama ISLAM. Sedangkan dari Iran, tidak semua orang Syiah. Ada juga warga Sunni asal Iran. Andaikan dalam identitasnya ada kejelasan, agama = Syiah Rafidhah, besar kemungkinan mereka akan dikeluarkan dari Kota Makkah. Kalau semua warga Iran dianggap Syiah, toh ada warga Sunni asal Iran. Untuk mengetahui apakah mereka Syiah atau Sunni juga tidak mudah, sebab kaum Syiah sudah biasa BOHONG. Bohong jadi agama di mereka. Dan betapa sulitnya untuk meneliti orang per orang, sebelum mereka boarding masuk ke Makkah/Madinah.
Jadi, soal hakikat Syiah Rafidhah itu bukan Islam, berdasarkan Syariat Islam. Adapun kebijakan politik Pemerintah Saudi kalau salah, harus diingatkan, dan ditunjukkan cara yang benar. Dan bagi kaum Syiah, dorongan hati mereka untuk ziarah ke Makkah/Madinah, hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak bisa memungkiri fitrahnya sendiri, bahwa tidak ada kota suci di Najaf, Karbala, dan Qum.
AMW.
  1. Dafa Sani mengatakan:
@abisyakir
Masalahnya rumit. Orang-orang Syiah di Iran, dalam kartu identitasnya tertulis agama ISLAM. Sedangkan dari Iran, tidak semua orang Syiah.
Jawaban saya : Serumit itukah persoalannya ?! Hanya karena segelintir orang sunni yg ada di Iran menjadi alasan bagi anda dan pemerintah Saudi untuk membenarkan masuknya orang-rang Syiah Iran yg mayoritas itu ketanah suci ?
Lantas apa alasan anda lagi terkait foto presiden Iran diatas ? Apakah luput bagi anda dan pemerintah Saudi sehingga tetap mengijinkan seorang Ahmadinejad untuk melaksanakan ibadah haji ataukah ia seorang Sunni?
Memang asal menjawab itu mudah walaupun hal itu bertentangan dengan akal sehat !
  1. Dafa Sani mengatakan:
Komentar pada foto diatas yg berbunyi :
“Ternyata, Mereka Masih Butuh Tanah Suci (Makkah & Madinah).”
tampaknya kurang tepat dan sangat tidak cerdas, dimana pilihan kata yg mungkin lebih tepat menurut saya adalah :
“Ternyata mereka masih merasa bagian dari umat Islam dan ibadah Haji adalah salah satu kewajiban mereka.”…..salam
  1. abisyakir mengatakan:
@ Dafa Sani…
1. Muslim Sunni di Iran itu tidak sedikit, sekitar 10-20 %. Itu bukan “segelintir” Om. Itu banyak.
2. Harusnya, di KTP orang Syiah Iran disebutkan, religion: Syiah Imamiyyah. Harusnya begitu, biar tidak menyulitkan Pemerintah Saudi untuk menolak mereka.
3. Ahmadinejad itu tokoh politik. Perlakuan ke tokoh politik beda dengan orang biasa. Pak Harto waktu jamaah Haji kesana juga diperlakukan khusus. Di balik membolehkan Ahmadinejad kesana -menurut hemat saya- mungkin sekalian untuk mendakwahi orang Syiah, agar mereka taubat dari agama made in Persia mereka.
4. ‘Ala kulli hal, sikap yang benar adalah sikap Syariat Islam. Intinya, siapapun yang mencela, mengutuk, melaknat, mendoakan keburukan kepada isteri-isteri Nabi, dan para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum, mereka adalah KUFUR, KELUAR DARI ISLAM, dan TIDAK BOLEH masuk Tanah Suci. Kalau ada pemerintahan yang tidak tegas, itu salah mereka; bukan salah Syariat Islamnya.
5. Ucapan Anda: “Ternyata mereka masih merasa bagian dari umat Islam dan ibadah Haji adalah salah satu kewajiban mereka.”
Orang Syiah yang “jujur” akan terus berusaha menjadi bagian dari Islam, apapun caranya. Tetapi caci-maki, kutukan, dan sumpah serapah mereka kepada para Shahabat Nabi dan isteri-isteri Nabi, semua itu membuat jiwa mereka selalu gelisah, dibayang-bayangi ketakutan, selalu resah karena mereka telah melakukan DOSA SANGAT BERAT, lantaran menodai kehormatan manusia-manusia yang Allah muliakan.
Kami (kaum Sunni) akan selalu mencintai Ali bin Abi Thalib Ra, Fathimah Ra, Husein Ra, Hasan Ra dan para ahlul bait Nabi Saw. Kami mencintai mereka, sebagai bagian dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi kami tidak melampaui batas seperti orang-orang Rafidhah (celaka) itu.
Demi Allah, cintanya kaum Sunni kepada Ahlul Bait lebih baik, lebih suci, dan lebih jujur dari seluruh cintanya orang-orang sesat Rafidhah -semoga Allah menuntun hati mereka kembali kepada Islam-. Amin Allahumma amin.
Semoga kaum Rafidhah sadar diri dan kembali kepada Islam. Amin ya Rahiim.
AMW.
  1. Dafa Sani mengatakan:
@abisyakir…
3. Ahmadinejad itu tokoh politik. Perlakuan ke tokoh politik beda dengan orang biasa. Pak Harto waktu jamaah Haji kesana juga diperlakukan khusus.
Lho….yg kita persoalkan disini bukanlah Ahmadinejad dalam kapasitasnya sebagai presiden Iran yg melakukan kunjungan kenegaraan ke negara Saudi Arabia, sehingga membawa-bawa kisah bagaimana Pak Harto diperlakukan tatkala ber-Haji disana tampaknya kurang relevan dan tidak bisa diterima sebagai penjelasan mengapa seorang Presiden dari sebuah negara yang mayoritas penduduknya adalah Syi’ah dapat berlenggang dengan bebas untuk menjalankan ibadah Haji yg seharusnya diwajibkan hanya bagi seorang muslim dan bukan orang kafir.
“…Di balik membolehkan Ahmadinejad kesana -menurut hemat saya- mungkin sekalian untuk mendakwahi orang Syiah, agar mereka taubat dari agama made in Persia mereka….”
Ngomong-ngomong sejak kapan orang kafir (siapapun dia ! ) diperbolehkan memasuki tanah suci sekali gus melaksanakan ritual haji dengan alasan untuk mendakwahi mereka…..aneh !!
Bukankah ada kaidah bahwa : Apabila bertemu dua kewajiban agama berupa larangan dan perintah maka mutlak didahulukan larangan. Artinya ketentuan larangan Allah bagi orang kafir untuk memasuki Tanah Suci mestilah didahulukan di atas perintah untuk mendakwahi orang-orang kafir itu.
Satu lagi kaidah yg mengatakan : “Menolak mafsadat lebih didahulukan dari mengambil manfaat.”
Lantas manfaat apa yang diperoleh selama ini dari diperbolehkannya orang Syi’ah memasuki tanah suci yg justru kebijakan ini berdampak tertanamnya syubhat dikepala kaum muslimin bahwa mereka bagian dari Islam yang sekaligus merusak wibawa ulama itu sendiri akibat fatwa yn mereka keluarkan dianggap “angin lalu” oleh pemerintah Saudi sendiri.
Semoga jadi renungan….salam.
  1. Dafa Sani mengatakan:
@abisyakir…
1. Muslim Sunni di Iran itu tidak sedikit, sekitar 10-20 %. Itu bukan “segelintir” Om. Itu banyak.
Kalau begitu Om ganti kalimatnya menjadi :
Serumit itukah persoalannya ?! Hanya karena ada sekitar 10-20 % orang sunni yg ada di Iran menjadi alasan bagi anda dan pemerintah Saudi untuk membenarkan masuknya sekitar 80-90 %orang-orang Syiah Iran itu ketanah suci ? Hhmmm….sebuah kebijakan yg sangat sulit untuk dipahami dengan akal sehat. Sekiranya persentase nya di balik, mungkin masih bisa dipahami dan wajar.
  1. abisyakir mengatakan:
@ Dafa Sani…
Serumit itukah persoalannya ?! Hanya karena ada sekitar 10-20 % orang sunni yg ada di Iran menjadi alasan bagi anda dan pemerintah Saudi untuk membenarkan masuknya sekitar 80-90 %orang-orang Syiah Iran itu ketanah suci ? Hhmmm….sebuah kebijakan yg sangat sulit untuk dipahami dengan akal sehat. Sekiranya persentase nya di balik, mungkin masih bisa dipahami dan wajar.
Komentar: Ya, intinya ini kan soal “kebijakan politik Saudi”. Kebijakan semisal itu bisa dilandasi aneka pertimbangan, yang tentu saja mereka lebih tahu alasan sebenarnya. Yang jelas, posisi kita disini hanya menduga-duga saja. Bisa benar, bisa salah.
Terkait yang Anda katakan, masalah utamanya adalah SIFAT MUNAFIK orang-orang Syiah itu sendiri. Mengapa mereka tidak jelas-jelas menuliskan dalam ID card-nya: “Religion: Syiah Imamiyyah“. Kalau begini kan mudah. Para administratur di Saudi tinggal mengarahkan mereka agar “berhaji” ke Qum, Najaf, dan Karbala. Bukan ke Tanah Suci Haramain Syarifain. Mestinya Anda mengusulkan atau berjuang ke Pemerintah Syiah Iran agar mengubah keterangan agama dalam Id itu. Cobalah Anda lakukan hal itu…
Mengapa Syiah Rafidhah harus mengganti Id-nya? Ya, karena dalam akidah mereka, kaum Sunni ini dianggap kafir, keluar dari Islam, dianggap terlaknat, boleh dilakukan kejahatan-kejahatan atasnya. Jadi, kalau di negeri Iran sana, kaum Syiah menetapkan hukum murtad atas kaum Sunni, mestinya tidak sulit bagi mereka untuk mengubah ID Card-nya, menjadi “religion: Syiah Imamiyyah”.
Islam itu identik dengan Ahlus Sunnah. Kalau Syiah mengkufurkan Ahlus Sunnah, berarti mereka menolak ajaran Islam. Semestinya tidak sulit bagi mereka untuk memakai ID khusus Syiah. Kalau ID itu sudah dicantumkan dalam paspor orang Syiah asal Iran…pasti akan mudah untuk menyikapinya, apakah mereka boleh masuk ke Tanah Suci atau tidak.
AMW.
  1. abisyakir mengatakan:
@ Dafa Sani…
Lho….yg kita persoalkan disini bukanlah Ahmadinejad dalam kapasitasnya sebagai presiden Iran yg melakukan kunjungan kenegaraan ke negara Saudi Arabia, sehingga membawa-bawa kisah bagaimana Pak Harto diperlakukan tatkala ber-Haji disana tampaknya kurang relevan dan tidak bisa diterima sebagai penjelasan mengapa seorang Presiden dari sebuah negara yang mayoritas penduduknya adalah Syi’ah dapat berlenggang dengan bebas untuk menjalankan ibadah Haji yg seharusnya diwajibkan hanya bagi seorang muslim dan bukan orang kafir.
Komentar: Secara administrasi bagaimana paspor Ahmadinejad? Disana tertulis, agama : Islam, atau agama : Syiah Imamiyyah? Mohon dijelaskan dulu masalah itu. Sebab kalau tertulisnya, agama : Islam, secara administratif Pemerintah Saudi tidak salah. Iya kan? Soal hatinya sesat atau bagaimana, itu urusan Ahmadinejad. Yang penting, hanya orang “berlabel Islam” yang boleh masuk Tanah Suci.
Ngomong-ngomong sejak kapan orang kafir (siapapun dia ! ) diperbolehkan memasuki tanah suci sekaligus melaksanakan ritual haji dengan alasan untuk mendakwahi mereka…..aneh !! Bukankah ada kaidah bahwa : Apabila bertemu dua kewajiban agama berupa larangan dan perintah maka mutlak didahulukan larangan. Artinya ketentuan larangan Allah bagi orang kafir untuk memasuki Tanah Suci mestilah didahulukan di atas perintah untuk mendakwahi orang-orang kafir itu.
Komentar: Dalam ID Card-nya misal tertulis Muslim, SECARA ADMINISTRASI apa bisa dikatakan sebagai kafir? Contoh, Jalaluddin Rahmat, tokoh Syiah asal Kiaracondong Bandung itu. Apa ID Card-nya tertulis, agama : Syiah Imamiyyah? Jadi secara administrasi, orang2 ini masih diperlakukan sebagai Muslim. Justru yang selalu menjadi pertanyaan: Mengapa orang Syiah tak berani pasang Id secara jujur, bahwa agama mereka Syiah Imamiyyah? Ini masalah utamanya.
Jadi trouble maker nya dari kaum Syiah sendiri. Kok Anda jadi malah menyalahkan Ahlus Sunnah? Aneh sekali. Mereka yang berbuat kok kita disuruh tanggung-jawab?
Soal hikmah mendakwahi orang sesat (kufur Rafidhah), itu kan alasan2 yang bisa saya kemukakan, yang nilainya duga-menduga. Tetapi sebagai catatan. Ini perlu Anda tahu ya… Waktu Pak Harto naik Haji secara resmi ke Tanah Suci, pengaruhnya sangat kuat. Sejak itu para birokrat, pejabat, akademisi, perwira militer, pengusaha, dll. mereka tidak segan-segan lagi naik Haji ke Tanah Suci. Anda bisa tanyakan hal ini ke pegawai-pegawai senior Depag, yang sejak awal mengurusi Haji. Jadi Haji-nya seorang pemimpin memiliki efek sangat kuat bagi rakyatnya.
Dalam soal Ahmadinejad ke Tanah Suci. Pertanyaannya: Apakah acara itu disiarkan secara live di TV-TV Iran? Apakah Ahmadinejad dalam Haji-nya menggunakan tata-cara ibadah kaum Sunni? Kalau hal demikian terjadi…maka Anda akan melihat bahwa ibadah Ahmadinejad itu akan memiliki efek besar di tengah rakyat Syiah Iran; seperti efek ibadah Pak Harto di mata rakyat Indonesia.
Anda sebut mendakwahi orang Iran mestinya dibelakangkan daripada membolehkan Ahmadinejad masuk Tanah Suci. Bukankah yang namanya dakwah disana, ialah menyelematkan kaum Syiah Iran dari kekufuran agama mereka? Bukankah hal itu juga bermakna melakukan sesuatu untuk mencegah kemungkaran besar rakyat Syiah Imamiyyah di Iran? Kalau dihitung-hitung, nilai kemungkaran Ahmadinejad masuk ke Tanah Suci lebih kecil daripada kalau rakyat Iran terus-menerus memeluk agama Syiah Persia Imamiyyah mereka. Agama semodel itu kan lebih dekat ke keyakinan Majusi bangsa Persia masa lalu.
Terimakasih.
AMW.
  1. Dafa Sani mengatakan:
@abisyakir…
Ya, intinya ini kan soal “kebijakan politik Saudi”. Kebijakan semisal itu bisa dilandasi aneka pertimbangan, yang tentu saja mereka lebih tahu alasan sebenarnya. Yang jelas, posisi kita disini hanya menduga-duga saja. Bisa benar, bisa salah.
Tanggapan saya : Kalau Arab Saudi memiliki “kebijakan politik”, maka demikian pula hal nya pemerintah Iran yg memilih untuk tidak mencantumkan status sebagai “syi’ah imamiyah” pada ID Card warga negaranya juga merupakan kebijakan politik yang tentu saja mereka lebih tahu alasan sebenarnya. Yang jelas, posisi kita disini hanya menduga-duga saja. Bisa benar, bisa salah.
“Terkait yang Anda katakan, masalah utamanya adalah SIFAT MUNAFIK orang-orang Syiah itu sendiri. Mengapa mereka tidak jelas-jelas menuliskan dalam ID card-nya:…bla…bla…bla…”
Anda pikir pemerintah Saudi tidak memiliki sifat yg sama, yaitu KEMUNAFIKAN pada diri mereka ? Tatkala diabaikannya “fatwa” Ulama Kibar yg jelas-jelas memfatwakan kafirnya Syi’ah,dan mereka dengan tenang malah memasukkan orang-orang semacam Ahmadinejad, sementara di sisi yang lain dengan tidak malunya mereka meng klaim sebagai sebuah negara yg sangat menjunjung dan menjaga kemurnian syariat Islam !
Kalau ini bukanlah “KEMUNAFIKAN”, maka saya tidak tahu lagi apa yg dinamakan “SIFAT MUNAFIK”…..salam
  1. abisyakir mengatakan:
@ Dafa Sani…
Anda pikir pemerintah Saudi tidak memiliki sifat yg sama, yaitu KEMUNAFIKAN pada diri mereka ? Tatkala diabaikannya “fatwa” Ulama Kibar yg jelas-jelas memfatwakan kafirnya Syi’ah,dan mereka dengan tenang malah memasukkan orang-orang semacam Ahmadinejad, sementara di sisi yang lain dengan tidak malunya mereka meng klaim sebagai sebuah negara yg sangat menjunjung dan menjaga kemurnian syariat Islam !
Kalau ini bukanlah “KEMUNAFIKAN”, maka saya tidak tahu lagi apa yg dinamakan “SIFAT MUNAFIK”…..
Komentar:
Ya alhamdulillah, Anda sudah bisa bedakan antara sikap politik pemerintahan dengan sikap Syariat. Itu sangat penting.
Dalam ilmu politik Islami, peran para ulama, dai, pejuang Islam memang menyuarakan kebenaran, sesuai dalil-dalilnya. Adapun soal sikap pemerintahan yang tidak lurus, itu tanggung-jawab mereka. Yang penting, para ulama, dai, pejuang Islam sudah memberikan nasehat, penjelasan, juga amar makruf nahi munkar.
Adapun masih ada celah bagi pemerintah Saudi untuk berkelit, kalau diserang orang seperti Anda. Yaitu lagi-lagi -maaf ya kalau mulai bosan- soal ID Card. Orang Syiah mestinya mengganti tulisan agamany dengan: Syiah Imamiyyah. Begitu… Kalau data ini tak diubah, tokoh sekaliber Jalaluddin Rahmat pun secara administrasi tetap dianggap Muslim.
Jadi “munafik”-nya pemerintah Saudi dalam soal itu, mereka masih punya landasan administratif. Sementara munafiknya orang Syiah kan bersifat MENYEJARAH, selama ribuan tahun. Iya kan
Terimakasih.
AMW.
  1. Dafa Sani mengatakan:
@abisyakir
OK…deh. Terima kasih pula ats kejujuran jawaban anda yg terakhir….salam.
  1. Dafa Sani mengatakan:
Sebagai tambahan :
Saya meragukan apakah kebijakan politik “kura-kura dlm perahu” yg diterapkan oleh pemerintah Saudi terkait identitas orang2 syiah yg memasuki tanah suci tadi dapat menjadi “udzur syar’i” bagi mereka umtuk lepas dari azab Allah subhanahu wa ta’ala sebagai sebuah pertanggung jawaban ukhrawi mereka di alam sana.
Semoga saja keraguan saya tidak salah
  1. Dafa Sani mengatakan:
Satu lagi :
“Sementara munafiknya orang Syiah kan bersifat MENYEJARAH, selama ribuan tahun. Iya kan… ”
Iya ..betul sekali. Adapun “KEMUNAFIKAN” pemerintah Saudi yg anda katakan masih ” bersifat admnistratif ” tampaknya akan bergeser kepada “KEMUNAFIKAN” yg bersifat “MENYEJARAH” juga manakala mereka enggan untuk mengoreksi ulang kebijakan mereka selama ini terhadap orang-orang Syiah….. dan itu hanya soal waktu…..
  1. Daus mengatakan:
Komentar: Ya, tidak begitu amat Pak. Masak hanya dari satu dua tayangan video, Anda bisa men-judgement masalah sebesar itu. Ini sangat prematur. Lho, dalam sejarah, apa Anda pernah mendengar Iran atau Hizbullah melakukan peperangan terbuka melawan Zionis? Yang berperang sejak dulu kan bangsa Arab. Sampai ada istilah Perang Arab-Israel. Kalau serangan2 sporadis, iya memang ada serangan Hizbullah. Tetapi faksi-faksi Mujahidin Islam Ahlus Sunnah kan jauh lebih banyak sejarahnya ketimbang Hizbullah. Disana ada Hamas, Jihad Islam, Fatah, Al Qa’idah, dan lain-lain.
Anda jangan mengada-ada dengan membuat asumsi aneh-aneh. Yang melawan Zionis Israel itu seluruh kaum Muslimin Ahlus Sunnah Pak. Kalau Iran kan biasanya berupa “serangan retorika” sekedar untuk menunjukkan bahwa mereka “anti Israel”. Padahal di Iran sendiri, orang Yahudi sangat banyak. Mereka aman berada di Iran. Mereka dilindungi luar biasa. Sedangkan kaum Sunni di Iran dibabat habis.
Response: anda ini punya televisi gak sih, lah tahun 2006 itu, perang atau main2 di Libanon Selatan?Jmlh ribuan jiwa terbunuh ktk itu Cuma bercanda?Libanon Selatan itu mayoritas Syiah, kok anda terlihat bodoh tp bangga, 2x Hizbullah berperang dgn israel dan nyata terlihat tp anda katakan hanya sandiwara???
Jd pemimpin HAMAS di video tsb hanya menunjukkan kemunafikan, dgn ceramah2nya?
Komentar: Ya, suatu saat, kalau militansi kesyiahan Anda sudah semakin menebal, Anda akan mendapati keyakinan-keyakinan syirik itu. Hanya soal waktu saja. Sudahlah…Anda tidak usah beralasan dengan background yang “Sunni murni”. Tidak usah begitu. Ahlus Sunnah selalu mulia dan tidak bisa diciderai oleh perilaku manusia yang sering berubah-ubah.
Response : anda yg lebih syirik, anda seperti orang2 pendahulu anda yg memerangi kaum muslim di Jamal, Siffin dan Nahrawan, mereka semua mengaku Islam tp memerangi Pemimpin yg sah!!!
Itu contoh nyata dari IDOLA anda kan, para pembunuh dan Pemberontak (Perang Jamal dan Siffin)!!!
Semoga Allah memberi Anda petunjuk “jalan pulang”. Sebelum, nilai hidup Anda tidak berharga sama sekali, di Mata Allah, manusia, dan alam. Nas’alulllah al ‘afiyah
Response : Semoga Allah memberikan apa yg layak buat anda, semoga semua dusta dan fitnahan anda hanyalah ujian, hidup anda (jk seperti ini terus) tidak berbeda jauh dgn para penguasa Muawiyah dan Abbasiyah, Islam dimulut namun hati penentang yg paling utama…
Saya anti DOKTRIN, krn saya yakin nanti di Yaumil Mahsyar, saya sendiri yg mempertanggung jawabkan keyakinan saya, bukan krn orang tua saya, guru2 saya dll, jd beragama dgn akal itu perlu bukan hanya sebatas mayoritas!!!
  1. Liong mengatakan:
“Kalau seandainya
agama itu dengan akal niscaya bagian
bawah khuf lebih utama untuk
dibasuh daripada bagian atasnya, sungguh
aku telah melihat Rasulullah
mengusap bagian atas khufnya. “
ini perkataan Ali bin Abi Thalib… jaga komentarmu hai daus, jgn menyelisihi perkataan beliau.
  1. galih mengatakan:
Janganlah kamu mengaku orang yang suci..ngaku golongan ahlul sunah wal jamaah..sudah dapet stampel dari ALLAH??sudah dapet janji dari ALLAH???sekarang gw tanya yang bantu fasilitasi zionis amerika+israel siapa ha??gw tanya balik yang berani lawan amerika siapa ha?? negaramu indonesia ini?? pemerintahan arab??ha?? ato kamu yang ngaku ahlul sunah wal jamaah??
Sekarang gw simpel aja tanya nya. Anda sekalian sudah liad kalo syiah menghina nabi dan sahabat ato cuman katanya???Adapun kalo ada ulama syiah menghina nabi dan sahabat apa semua syiah itu sesad??Kalo ngaku ahlul sunah wal jamaah baca balik tu kitab mu Al Hujurat ayat 6. Kebiasaan.
  1. abisyakir mengatakan:
@ Galih…
Lho, apa tidak boleh kami mengaku sebagai kaum Ahlus Sunnah? Kok orang Syiah boleh mengklaim sebagai kaum pembela Ahlul Bait? Mereka boleh mengklaim, sedang Ahlus Sunnah tidak boleh. Aneh sekali…
Lho Anda tidak lihat ya Jihad Ahlus Sunnah di berbagai negara? Pernahkan Syiah berjihad seperti itu? Ya mereka berjihad dalam rangka merusuhi kehidupan Ahlus Sunnah (baca: membantu kaum kufar).
Penghinaan, celaan, caci-maki itu banyak di kitab-kitab asli kaum Syiah yang ditulis ulama2 panutan mereka. Yang beginian bukan berita baru. Anda saja yang pura-pura tidak tahu.
Surat Al Hujurat itu kan bukan “perlindungan” bagi kaum sesat. Itu adalah akhlak yang semestinya dilakukan oleh sesama Muslim, bukan antar Muslim dengan pengikut aliran sesat. Aliran sesat boleh masuk, kalau mereka sudah meninggalkan kesesatannya. Jadi jangan berdalil semaunya lah…
Terimakasih.
AMW.
  1. jawad mengatakan:
anda sepertinya benci sekali ya sama syiah or iran..
anda menggunakan kalimat “wallahualam bissawab ”
udah tau Allah AW yang tau, yang lebih tau, kenapa anda sok tau tentang syiah.
inti na pertanggungjawaban atas apa yang anda yakini.
  1. abisyakir mengatakan:
@ Jawad…
Anda sepertinya benci sekali ya sama syiah or iran.. anda menggunakan kalimat “wallahualam bissawab”. udah tau Allah AW yang tau, yang lebih tau, kenapa anda sok tau tentang syiah. inti na pertanggungjawaban atas apa yang anda yakini.
Respon: Alhamdulillah. Pokoknya, siapa saja yang menghalalkan caci-maki, celaan, dan laknat bagi para Shahabat Ra, maka tidak ada kemuliaan atas mereka. Mereka adalah hina, murtad, dan wajib dianggap sebagai musuh. Seperti perkataan Abu Zur’ah Ar Razi, “Siapa yang mencaci-maki para Shahabat, mereka lebih layak ditetapkan sebagai orang zindiq, karena Islam tidak akan pernah sampai kepada kita, selain melalui Shahabat.”
AMW.
  1. Tami mengatakan:
Mudah2han perbedaan pandangan akidah ini bukan akibat kekuasaan politik dunia…
  1. hamba ALLAH mengatakan:
setan2 mulai emosi melihat artikel ini..hahaha.. klo berbeda pandangan jng pke emosi tohh..malu sma anak tk..hihihi..
  1. Abu Kandahar mengatakan:
Om Abi Syakir, saya lihat anda ini sebenarnya USTADZ YANG DIBINA OLEH INTELIGEN. Tugas anda memecah belah umat. Dilihat alasan anda tentang kenapa orang syiah diizinkan masuk mekah dan madinah, terlihat anda menafikan intelektualitas. Sudah jelaslah siapa anda sebenarnya.
  1. anas mengatakan:
@kandahar, kalo dibalik gimana ? kamu yg dibina oleh ANTEK SYIAH, untuk menyerang wahabi, dan memecah belah Ahlussunnah
  1. angie mengatakan:
lho kok tahu pak ANAS ini @ kandahar menyerang Wahabi? Benar dunk kalau pak Anas ini intel juga?
  1. herlina siregar mengatakan:
@ abi syakir.
dari beberapa tulisan anda yg saya baca, tidak terlihat niat baik anda untuk mempersatukan umat, proses pengkafiran dan pemurtadan yg anda gembar gemborkan malah makin membingungkan, saya malah jadi balik berfikir kalau anda adalah orang yg di bina intel utk memecah belah umat.
sudah terlalu banyak orang yg merasa paling benar di negara ini hanya dengan mengkafir kafirkan sesama muslim.
tunjuk diri sendiri, apakah anda sudah menjadi seorang muslim yg bisa jadi contoh yg baik utk muslim yg lain!
Berkacalah, apa yg sudah anda perbuat utk dunia islam selain mengkafirkan muslim lain?
Banyak banyak lah belajar dengan orang yg tulus dalam beragama, bukan hanya soleh individu, tapi jadilah kesolehan sosial.
  1. abisyakir mengatakan:
@ Herlina Siregar…
Posisi saya disini kan memberi jawab atas sebuah isu yang sering digunakan oleh Syiah untuk membingungkan kaum Ahlus Sunnah di Nusantara. Boleh dong kita berpendapat…
AMW.
  1. ucicachev mengatakan:
yg jd pertayaan sy mengapa hanya negara iran yg mau terang2an membela rakyat palestina n mau memusuhi israel ? Jg menolak holocoust.
Knapa hanya ulama iran yg memberi fatwa mati kpd penghna nabi Salman Rusdy dlm Satanic verses?
Sdangkan ngara2 islam sndri bungkam,bahkan bkerja sama dgn israel,Paradok !mksh n wassalam.


Isu Revolusi: Jangan Sampai Pejuang Islam Jadi Tunggangan Syiah Rafidhah!!!

April 12, 2012
Catatan Editor: Tulisan ini diedit ulang pada Jum’at, 4 Mei 2012. Isi tulisan yang berkaitan dengan Joserizal Jurnalis dan MER-C ditiadakan. Alasannya, ketika saya menghubungi narasumber dan menceritakan pemuatan informasi tersebut, beliau keberatan. Narasumber tidak mau ada pemuatan. Dengan demikian informasi seputar Joserizal dan MER-C ditiadakan. Harap dimaklumi.
_____________________________________________________
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Sebelum membaca tulisan ini, mohon pembaca sudi terlebih dulu membaca beberapa artikel di bawah ini:
Para Aktivis Islam Mau Dijadikan “Kuda Troya” oleh Kaum Revolusioner Syiah Rafidhah.
[1]. Syiah, Holocaust, dan Clash Civilization (eramuslim.com).
[2]. Waspadai Revolusi Kalangan Syiah (nahimunkar.com).
[3]. Syiah Indonesia Tengah Mempersiapkan Revolusi (eramuslim.com).
Tulisan-tulisan di atas saling berkaitan satu sama lain. Benang merahnya, Syiah Rafidhah tampaknya sedang merancang sebuah revolusi di negeri ini, terinspirasi oleh Revolusi Rafidhah di Iran tahun 1979 lalu. Mereka bukan mengendarai kendaraan sendiri untuk menggulirkan revolusi itu, tetapi mereka memakai isu para aktivis Islam (mujahidin) yang sudah sangat muak dengan regim sekuler Neolib untuk melancarkan revolusi. Bahkan mereka menjadikan para mujahidin sebagai “kuda troya”. Nanti para mujahidin yang bermandi keringat, lalu mereka yang memungut hasil. Sangat menakjubkan!
Adapun tulisan ini sifatnya hanya sebagai pendukung dan pelengkap data saja. Para Ahlus Sunnah di Nusantara harus segera sadar, betapa sangat berbahaya konspirasi Syiah yang mengatasnamakan “revolusi” itu. Semoga Allah Ar Rahmaan senantiasa memberikan taufiq dan pertolongan untuk menetapi jalan hidup yang diridhai-Nya. Amin Allahumma amin.
Mari kita mulai merunut fakta dan datanya…
[1]. Analisis dari lembaga Islam internasional, Rabithah Ulama Muslimin:
“Gejolak kawasan Timur Tengah akhir-akhir ini rupanya menjadi perhatian Rabithah Ulama Al-Muslimin (Ikatan Ulama Muslimin)Dalam sebuah Muktamar terbarunya di Istanbul, Turki yang berlangsung dari tanggal 27-28 Rabi’ul Awwal 1432 H baru-baru ini, Rabithah Ulama Muslim mendukung langkah-langkah reformasi di Tunisia dan Mesir. Acara bertema, “Ulama dan Kebangkitan Umat” yang yang dihadiri lebih dari seratus ulama dan du’at (dai) dari 35 negara itu membahas dan mendiskusikan berbagai topik aktual di Dunia Islam.
Rabithah juga mengingatkan umat Islam dari bahaya konspirasi global Syi’ah Shafawiyah dengan propagandanya yang menipu; baik itu di Bahrain dan negara lainnya. Syi’ah Shafawiyah adalah Aliansi strategis pemerintah Iran, pemerintah Suriah, kelompok Hizbullah dan kelompok Syiah Irak yang ingin mengembalikan kejayaan dinasti (Syi’ah) Shafawiyah dan Fathimiyah dalam menguasai kekuasaan di semenanjung Arab dan Afrika. (DR Muhammad Bassam Yusuf, penulis buku “Menyingkap Konspirasi Besar Zionis-Salibis dan Neo Syiah Shafawis terhadap Ahlussunnah di Semenanjung Arabia”).
Perhatikan: Ini hasil analisis para ulama Muslim Ahlus Sunnah sedunia. Tidak boleh ada sikap ofensif, meremehkan, atau segala “celetukan” yang bernada mementahkan bayan di atas. Ingat selalu, “Al ulama’u waratsatul anbiya‘” (ulama itu pewaris para Nabi). Kalau kalangan Syiah meremehkan atau mementahkan, wajar saja wong mereka memang mengikuti jalan “begituan”.
[2]. Mungkinkah Syiah Rafidhah akan melakukan revolusi di Indonesia, sedangkan jumlah mereka sangat minoritas? Kalau di Iran atau Irak mungkin saja, tapi di Indonesia apa mungkin? Ini pertanyaan penting. Jawabnya: Kalangan Syiah Rafidhah akan memakai pola seperti di Suriah. Mereka jumlahnya minoritas, tetapi mengendalikan militer untuk menjajah kaum Ahlus Sunnah. Pola mereka bukan seperti di Iran, tetapi seperti di Suriah. Singkat kata, mereka bukan akan memakai jalan demokrasi atau semacamnya, tetapi jalan kekuasaan dan kekerasan militer.
[3]. Apa mungkin Syiah Rafidhah akan main kekerasan? Jawabnya, sangat mungkin. Menurut informasi yang beredar di kalangan aktivis Islam, Syiah Rafidhah di Indonesia telah memiliki apa yang dinamakan “Laskar Al Mahdi”. Ini adalah semacam kekuatan milisi swasta yang sewaktu-waktu bisa diarahkan menjadi organisasi sejenis “Hizbullah” di Libanon itu. Anda perlu ingat juga, saat perayaan Hari Asyura beberapa waktu lalu, ia diadakan di komplek lapangan udara Halim Perdanakusumah. Hebat banget, mereka sudah bisa mengakses fasilitas militer milik TNI.
[4]. Sebagai fakta lanjutan, masih ingat buku “Trilogi Idahram”, khususnya buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”? Dalam buku-buku ini, kaum Salafi-Wahabi oleh Idahram dan Said Aqil Siradj diposisikan sebagai “musuh negara” alias “teroris”. Said Aqil kerjasama dan BNPT (Ansyad Mbai) gandeng-renteng melakukan upaya deradikalisasi. Ansyad Mbai sendiri secara verbal akan menjadikan buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” sebagai rujukan lembaganya. Apa yang bisa disimpulkan? Ini adalah cara main kekuasaan dan kekerasan.
[5]. Coba perhatikan ucapan Idrus Jamalullail yang di sebuah media: “Habib Idrus Jamalulail di acara maulid Nabi (hari Jum’at malam tanggal 3 Februari 2012) mengatakan, peringatan maulid jangan hanya mengejar nasi kebuli, tetapi harus ada target untuk mengangkat Imam untuk kaum Muslimin di Indonesia. “Kalau di dunia ada Imam Khomeini, maka mari di Indonesia kita angkat Habib Rizieq Syihab sebagai Imam kaum muslimin di Indonesia.” Ini adalah signal-signal, bahwa para aktivis akan menjadikan “imam khomeini” sebagai inspirasi gerakan mereka. Kalau benar-benar Ahlus Sunnah, akan sangat risih dengan pernyataan seperti ini. Apa tidak ada inspirasi lain yang lebih baik selain Khomeini?
[6]. Tanggal 12 Maret 2012, di ruang Anggrek Istora Senayan, dilaksanakan acara dialog bertema “Calon Presiden Syariah”. Acaranya sangat meriah sekali dan didukung spirit besar para aktivis Islam. Singkat kata, forum ini berencana menjadikan Habib Riziq sebagai Capres Syariah, dan menggulirkan tatanan negara Indonesia yang berbasis Syariat Islam. Dalam satu pernyataannya, Al Akh Munarman mengatakan: “Kalau nanti kita sudah berhasil mengangkat seorang Capres Syariah, pada hari itu juga kita terbitkan dekrit yang menyatakan di Indonesia berlaku Syariat Islam.” Begitu kurang lebih pernyataan Munarman. Singkat kata, para aktivis gerakan Islam ini insya Allah tulus ingin menegakkan Syariat.
Tetapi menariknya, di sela-sela acara, ada seorang penanya atau sebutlah “penceramah dadakan” berasal dari Bogor. Dalam pernyataannya dia kembali mengangkat nama “Imam Khomeini”. Kata dia, di Indonesia saat ini butuh sosok seperti “Imam Khomeini” untuk memimpin gerakan revolusi. Rasanya sangat risih, mengapa Khomeini lagi Khomeini lagi? Hal ini menjadi signal untuk kesekian kalinya, bahwa ada bayang-bayang Syiah Rafidhah di balik gerakan revolusi yang hendak digulirkan para aktivis Islam itu.
[7]. Bukan kebetulan jika hari-hari ini para aktivis Syiah sangat nafsu menyebarkan ceramah Habib Riziq Shihab yang membantah buku Yazid Abdul Qadir Jawwas yang berjudul “Mulia dengan Manhaj Salaf”. Oleh para aktivis Syiah, buku ini mereka pakai untuk menyerang kaum Wahabi. Nah, itulah liciknya mereka, selalu menggunakan momen untuk menyerang musuh-musuhnya dari kalangan Ahlus Sunnah Salafiyah (baca: Wahabi). Modusnya sama, yaitu masuk dari celah sikap dai-dai Salafi, lalu memanfaatkan hal itu untuk menyerang Ahlus Sunnah secara umum. Modus buku “Trilogi Idahram” kan begitu. Penulisnya masuk dari fakta-fakta kerasnya dakwah ikhwan Salafi, lalu menyerang Ahlus Sunnah secara membabi-buta.
Coba perhatikan kata-kata Habib Riziq dalam ceramah itu: “Buku-buku semacam ini memecah belah umat. Kalau pengarang ini merasa bahwa Wahhabi adalah ajaran yang paling benar, silahkan. Dia menamakan dirinya pengikut Salafi atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama istilah Wahhabi. Kalau dia merasa Salafi Wahhabi paling benar, hak dia. Kalau dia merasa paling suci, hak dia. Kalau dia merasa paling lurus, hak dia. Tapi dia tidak punya hak untuk sesat menyesatkan, kafir mengkafirkan sesama umat Islam. Apalagi umat Islam dari kalangan Asy’ari dan Maturidi yang sudah 1200 tahun lebih secara representatif mewakili Ahlussunnah wal Jama’ah. Wahhabi baru lahir kemarin, terus ingin mengkafirkan Asy’ari. Memang selama ini 1000 tahun yang disebut Ahlussunnah itu siapa? 1000 tahun lebih yang disebut Ahlussunnah  itu adalah Asy’ari dan Maturidi. Wahhabi tidak masuk daftar. Baru muncul belakangan, sudah ingin sesat menyesatkan umat Islam yang tidak sepakat dengan mereka. Innalillahi wainailahi rojiun.” (Sumber: Tanggapan Habib Riziq Terhadap Wahabi dan Syiah).
Lihat pernyataan di atas, bermula dari buku Yazid Abdul Qadir Jawwas, lalu masuk menyerang Wahabi secara keseluruhan. Masya Allah…apakah itu keadilan, Habib Riziq? Bukankah selama ini Anda banyak dibantu, didukung, dipromosikan oleh kalangan Wahabi? Apa sih susahnya membatasi masalah HANYA pada buku Ustadz Yazid Jawwas saja, tanpa harus menempeleng atau memukul kalangan Wahabi? Mestinya Habib Riziq bisa membedakan masalah umum dan khusus, masalah pribadi dan jamaah, masalah ushul dan furu’.
[8]. Perlu diingat juga, pertimbangan geopolitik. Indonesia itu besar, tetapi kekuatan terkonsentrasi di Pulau Jawa. Pulau Jawa luas, tetapi titik pusat kekuasaan di DKI Jakarta. Banyak orang berteori, kalau Jakarta bisa dikuasai, maka Indonesia akan mudah dikuasai. Maka itu pada era tahun 1965 dulu, target revolusi PKI adalah Jakarta. Sedangkan secara sosial-keagamaan, Jakarta bisa dibilang telah dikuasai oleh jaringan Habib-habib. Kalau tidak percaya, turunlah ke Jakarta. Lihat spanduk, baliho, dan aneka acara Mauludan “forever and forever” yang biasa diadakan di Jakarta! Bisa saja, nanti Habib Riziq didukung para Habaib Jakarta untuk melakukan revolusi. Ketika Habib Riziq sudah kedodoran, baru para Habaib akan tampil ke depan untuk merebut kekuasaan Habib Riziq. Ingat, para Habaib di Jakarta memiliki massa pengikut yang sangat banyak sekali.
Dulunya Jakarta ini dikuasai kawan-kawan PKS. Tetapi karena mereka tidak amanah, dan lebih cinta dunia, akhirnya warga Jakarta berpaling ke komunitas “Mauludan forever and forever” itu, yaitu kalangan Habib-habib. Fakta yang tampak selama ini, para penggiat dakwah Syiah Rafidhah di Indonesia juga kalangan Habib-habib asal Hadramaut ini. Salah satu yang disebut-sebut mendukung Syiah ialah Habib Husein Al Attas.  Namun yang bersangkutan menolak dikatakan sebagai Syiah. Dia bahkan menantang mubahalah bagi sesiapa saja yang menuduhnya sebagai Syiah.
[9]. Tampaknya Syiah Rafidhah sangat lihai dalam memainkan peran media. Mereka butuh kekuatan revolusioner untuk mendobrak regim sekuler yang berkuasa. Maka itu mereka memanfaatkan para aktivis dan mujahidin Islam yang pro Syariat, sebagai kuda tunggangan. Para aktivis dan mujahidin hendak dibenturkan dengan pengusa sekuler. Ketika terjadi benturan (yang populer disebut “revolusi”) para aktivis Islam dan mujahidin pada bonyok dihajar oleh penguasa (militer dan Polri). Tetapi aparat juga bonyok juga. Akhirnya, ketika kedua pihak sudah bonyok, Syiah Rafidhah akan masuk memetik hasil. Itulah skenarionya.
Makanya saat ini Syiah Rafidhah sangat giat membangun kekuatan di segala lini. Tujuannya, mempersiapkan diri untuk memetik kekuasaan, setelah para mujahidin dan aktivis Islam bonyok disikat aparat keamanan. Maka itu tak heran, kalau Syiah Rafidhah mendukung isu-isu revolusi ini, tujuannya agar para pemuda Islam terbakar amarah dan emosinya, sehingga hal itu bisa mereka pakai untuk mengambil alih kekuasaan.
Bayangkan, dalam isu revolusi ini, kita sudah mendengar pernyataan-pernyataan SERAM, seperti: “Orang-orang miskin, kalian jangan putus-asa, jangan bunuh diri. Daripada bunuh diri, lebih baik kalian bunuh SBY. Hari ini mahasiswa sudah berhasil menguasai Gedung DPR, kapan kita menguasai Istana Negara? Nanti kalau sudah terpilih Presiden Syariah, kita akan umumnya dekrit bahwa di Indonesia berlaku Syariat Islam. Anggota militer harus mendukung, kalau tidak mendukung, nanti Anda akan kami perangi!” Bayangkan wahai sahabat, pernyataan demikian sudah bermunculan!
[10]. Kita bukan pro “ulil amri” sekuler, tetapi pro Ulil Amri yang tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Itu sudah menjadi akidah dan pilihan kita. Kalau pro “ulil amri” sekuler, nanti kita akan ikut memikul dosa “ulil amri” seperti itu, karena kita tidak mengingkari kemunkarannya. Intinya, kita pro Ulil Amri sesuai Syariat Islam. Tetapi disini ingin diingatkan, betapa bahayanya kalau para aktivis atau mujahidin Islam menjadi “kuda tunggangan” revolusi Syiah seperti yang diungkap oleh Ustadz Hartono Ahmad Jaiz. Jangan sampai kita dikadalin oleh Syiah. Para aktivis Islam yang bermandi keringat (atau bahkan darah), sedangkan Syiah Rafidhah yang memetik hasil.
Ingat peristiwa Revolusi 1998. Ketika itu mahasiswa yang berkuah keringat-darah, lalu yang memetik hasil Abdurrahman Wahid dan Megawati. Amat sangat disayangkan sekali. Kata para ustadz, “Kita ini selalu menjadi pendorong mobil mogok. Setelah mobil berlari, kita ditinggalkan.” Tampaknya Syiah Rafidhah mau memakai cara yang sama terhadap para aktivis Islam.
Disini kita ingin menegaskan: Insya Allah Habib Riziq, FPI, para aktivis dan mujahidin Islam, mereka ini orang-orang yang giat, ikhlas, dan ingin menggulirkan perubahan. Tetapi kalau tidak waspada, mereka bisa dikendalikan oleh tangan-tangan Syiah Rafidhah di balik layar. Lalu mereka yang memungut hasil kekuasaan, sedang kita gigit jari. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
Mari kita atur lagi barisan. Mari kita damaikan antara kalangan Asy’ari-Maturidi dan kalangan Wahabi. Jangan membuat perselisihan di antara dua barisan besar ini, sebab Syiah akan memungut hasil dari pertikaian di antara kita. Itulah pesan utamanya. Jazakumullah khairan katsira. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
[Ayahnya Syakir].
NB: Sebagian redaksi seputar Husein Al Attas sengaja diperbaiki. Alasannya, seperti tercantum dalam tulisan millis Gheis Chalifah, bahwa tidak ada yang secara meyakinkan bisa membuktikan bahwa Husein Al Attas adalah Syiah.

Habib Riziq Shihab dan Syiah Rafidhah

April 8, 2012
(Edited version).
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Seorang Ahlus Sunnah memiliki keutamaan, salah satunya tidak gentar kepada siapapun, selain kepada Allah Ta’ala. Hal ini sesuai ayat, “Wa lam yakhsya illa ‘alallah” (dia tidak takut, selain kepada Allah). Dalam menjalani hidupnya, Ahlus Sunnah akan senantiasa mengangkat kebenaran dan memunculkannya, dengan segala resiko yang mesti dihadapi.
Terkait sikap emosional Habib Riziq Shihab dalam menanggapi buku karya Ustadz Abdul Qadir Jawwas yang berjudul “Mulia dengan Manhaj Salaf”, kita perlu memberikan catatan serius. Bukan bermaksud memperlebar masalah, atau merasa pro dengan sikap Ustadz Yazid, tetapi untuk menunjukkan sikap proporsional yang mestinya diambil oleh siapa saja yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Perlu dipahami, bahwa Ahlus Sunnah tidak memberi toleransi kepada sikap berdekat-dekat, kelembutan, atau kerjasama dengan Syiah Rafidhah (kaum penghujat isteri-isteri Nabi dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum ajma’in). Siapapun pelakunya, jika menunjukkan sikap ramah, toleran, dan lapang kepada Syiah Rafidhah, perlu dikoreksi. Apalagi jika sikap toleran itu ditambah dengan sikap ANTIPATI kepada kepada komunitas yang kerap dijuluki “Wahabi”. Tentu merupakan gambaran aneh, kepada Rafidhah bersikap lapang, sedang kepada “Wahabi” justru antipati. Padahal seburuk-buruknya “Wahabi”, mereka tidak pernah keluar dari lingkaran Ahlus Sunnah. Sedangkan Rafidhah, banyak ulama yang menyesatkan mereka, bahkan menganggap mereka telah “kharij ‘anil millah” (keluar dari millah Islam).
Sangat disayangkan ketika dalam hal ini Habib Riziq memperluas serangan ke komunitas Wahabi secara umum? Padahal di antara mereka tidak sedkit yang bersikap jujur, moderat, dan adil. Bahkan mereka banyak menolong FPI secara langsung atau tidak. Ketika terdengar isu pembubaran FPI, banyak kalangan “Wahabi” bersuara menolong posisi FPI. Tapi, dalam sebagian pernyataan Habib Riziq seolah “Wahabi” buruk semua, tercela semua. Nas’alullah al ‘afiyah.

Di bawah ini sebuah artikel dari nahimunkar.com, tanpa ada perubahan redaksi sedikit pun:
HABIB “RS” CENDERUNG SYIAH
Pada hari Selasa, tanggal 27 Maret 2012, sejumlah tokoh MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) bersilaturrahim ke kantor MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat, yang terletak di jalan Proklamasi nomor 51, Jakarta Pusat. Pada kesempatan itu, Farid Ahmad Okbah pakar syi’ah dari MIUMI membeberkan bukti-bukti kesesatan syi’ah, setidaknya yang terjadi di Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, salah seorang pengurus MUI Pusat KH Anwar Abbas yang turut hadir mengatakan, sejauh ini memang ada upaya penjinakkan yang dilakukan pemerintah Iran kepada tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan cara mengundang mereka datang ke Iran. Penjinakkan yang dimaksud, tentunya berkenaan dengan sikap tegas umat Islam yang memposisikan paham sesat syi’ah sebagai induk kesesatan, apapun jenis sektenya.
Upaya penjinakkan itu, seperti mendapat pembenaran dari Habib RS, yang pada 08 Mei 2006 lalu pernah diundang ke Iran oleh Ayatullah Taskhiri (Taqrib bainal Mazahib). Saat itu Habib RS tidak sendiri, ia bersama sejumlah ‘tokoh’ Islam seperti Dr Jose Rizal (Ketua MER-C), Dr Abdul Mukti (saat itu Ketua Pemuda Muhammadiyah), Ir M Iqbal (saat itu Wakil Sekjen Nahdlatul Ulama), penyanyi Hadad Alwi, ustadz Ustman Syahab Lc, dan Hasan Dalil Lc.
Pembenaran dimaksud, dapat ditemukan pada materi jawaban Habib RS saat diwawancarai oleh majalah SYIAR, Mei 2009, sebagai berikut:
Ada beberapa kesan yang saya dapat dari kunjungan saya ke Iran. Sebagai Sunni Syafi’i, tentu kita punya pandangan sendiri tentang Syiah. Namun demikian, antara memandang Syiah dari jauh dengan memandang Syiah dari dekat itu beda. Dari jauh, Syiah itu begini dan begitu. Sedangkan bila dilihat dari dekat, ternyata tidak seperti itu. Setidaknya, kunjungan saya (ke Iran -red) itu akan melunturkan kebekuan. Tadinya mungkin kaku dan anti-dialog. Tapi setelah kunjungan itu, agak sedikit lebih cair dan terbuka. Yang kemarin tidak mau mendengar sekarang jadi mau mendengar. Yang kemarin mau menyerang kini mengajak dialog.”
Meski jawaban Habib RS (2009) atas pertanyaan yang diajukan majalah SYIAR tidak dimaksudkan sebagai ‘pembenaran’ terhadap dugaan yang dikhawatirkan KH Anwar Abbas (2012),  namun begitulah faktanya. Artinya, dugaan dan kekhawatiran KH Anwar Abbas sesungguhnya merupakan kenyataan yang sedang berlangsung. Dengan kata lain, upaya penjinakkan itu memang benar-benar terjadi.
Cenderung Syi’ah
Melalui berbagai pernyataannya yang pernah dipublikasikan berbagai media massa, tentunya bekenaan dengan syi’ah, sikap Habib RS bisa dinilai cenderung kepada syi’ah. Misalnya, ketika Habib RS diwawancarai oleh M. Turkan dari Islam Alternatif (Islat). Wawancara berlangsung di sela-sela silaturrahim dan seminar bertema Pergerakan Islam di Indonesia yang berlangsung di Kampus Universitas Imam Khomeini Qom, Iran, Mei 2006.
Ketika M. Turkan dari Islam Alternatif bertanya tentang kaitan konsep amar ma’ruf yang menjadi dasar bertindak FPI dengan tindakan penghantaman terhadap paham sesat Ahmadiyah, ketika itu Habib RS menjawab: “Kalau Ahmadiyyah itu memang kita harus bedakan, karena ada perbedaan dan ada penyimpangan. Kalau antara mazahib-mazahib Islamiyyah seperti Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi, termasuk Ja’fari, dan lain sebagainya, ini kita anggap termasuk di dalam lingkar perbedaan yang kita harus tenggang rasa juga berdialog…”
Jawaban Habib RS seperti itu, jelas khas jawaban para penganut syi’ah yang masih belum mau berterus terang dengan ke-SYI’AH-annya. Pertama, mereka memposisikan paham sesat syi’ah sebagai salah satu madzhab dalam Islam, yaitu madzhab Ja’fari. Kedua, perbedaan Islam (ahlussunnah wal jama’ah) dengan syi’ah (madzhab Ja’fari) masih bisa diselesaikan dengan dialog.
Padahal, kesesatan Ahmadiyah juga sebanding saja dengan kesesatan syi’ah. Ahmadiyah (Qadyan) selain menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad SAW dan menjadikan TAZKIRAH sebagai kitab suci, tidak ada menjelek-jelekkan sahabat, memaki-maki sahabat, mengkafirkan sahabat, mengatakan malaikat Jibril salah alamat ketika memberikan wahyu yang seharusnya kepada Ali bin Abi Thalib, tetapi kesasar kepada Muhammad bin Abdullah SAW.
Dalam kasus Ahmadiyah, Habib RS (sikapnya) sebagaimana Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Sedunia), tidak perlu repot-repot membedakan antara Qadiyani dan Lahore yang ‘hanya’ menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai mujadid semata. Pokoknya, Ahmadiyah itu sesuatu yang berada di luar Islam. Begitu juga dengan Inkarussunnah, Islam Jama’ah, dan sebagainya dinyatakan sudah keluar dari Islam.
Namun ketika membahas soal syi’ah, standard yang digunakan Habib RS berbeda: “…kita tidak bisa menggeneralisasi semua Syiah sesat atau semua Syiah tidak sesat…”
Perlu difahami, kalimat seperti yang dilontarkan Habib RS  ini, sering digunakan oleh kalangan pendukung syi’ah yang masih enggan mengakui ke-SYI’AH-annya, misalnya sebagaimana disampaikan oleh ustadz Husein Alatas (salah satu narasumber Radio Silaturahim/ Rasil) kepada jama’ahnya.
Di Radio Silaturahim (Rasil) selain ada ustadz Husein Alatas yang enggan disebut syi’ah, juga ada ustadz Zein Al-Hadi, salah satu ustadz syi’ah yang berkawan baik dengan Habib RS (menurut pengakuan RS sendiri): “…Ini sebagai gambaran umum dari apa yang saya terima dari Ustadz Hassan Daliel, Ustadz Othman Shihab, Ustadz Agus Abubakar, Ustadz Husein Shahab, Ustadz Zein Alhadi, dan banyak lagi ustadz-ustadz Syiah yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu…” (wawancara dengan SYIAR).
Rasil sendiri dalam rangka menepis dugaan sebagian kalangan bahwa radio tersebut pro syi’ah, menyebutkan sejumlah tokoh yang dianggapnya dapat meyakinkan umat bahwa Rasil tidak pro syi’ah. Antara lain disebutkan Habib RS dan Jose Rizal Mer-C, sebagai narasumber mereka. Upaya itu jelas sia-sia. Karena, umat sudah sejak lama menduga kedua tokoh tadi cenderung kepada syi’ah. Jadi, penyebutan nama-nama tadi hanya memperkuat dugaan umat bahwa Rasil memang benar-benar pro syi’ah.
Adanya dugaan sebagian kalangan terhadap Habib RS yang dikatakan cenderung kepada syi’ah, sudah ada sejak beberapa tahun belakangan. Bahkan, dugaan itu sudah muncul sejak 1998, ketika Habib RS namanya mencuat ke angkasa tinggi berkat kiprahnya yang melaksanakan ‘amar ma’ruf nahimunkar.
Pada tahun 2010, di situs resmi FPI, pernah dipublikasikan penjelasan bahwa FPI adalah organisasi amar ma’ruf nahimunkar yang berasaskan Islam dan ber-aqidah ahlussunnah wal jama’ah serta bermadzhab fiqih Syafi’i,  bukan syi’ah atau wahabi.
Dalam pandangan FPI, syi’ah ada tiga golongan, yaitu Ghulat, Rafidhoh, dan Mu’tadilah. Menurut FPI, syi’ah Ghulat tergolong kafir dan wajib diperangi. Karena, keyakinannya sudah menyimpang dari ushuluddin yang disepakati semua madzhab Islam. Misalnya, menjadikan Ali bin Abi Thalib RA sebagai nabi, bahkan Tuhan. Juga, meyakini bahwa Al-Qur’an sudah dirubah-ditambah-dikurangi (Tahrif).
Sedangkan syi’ah Rafidhoh, menurut FPI, meski tidak mempunyai keyakinan yang sama dengan syi’ah Ghulat, namun golongan ini cenderung melakukan penghinaan, penistaan, pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para Sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar RA dan Umar RA atau terhadap para isteri Nabi SAW seperti ‘Aisyah RA dan Hafshah RA. Syi’ah golongan ini menurut FPI hanya diberi label sesat (bukan kafir), namun wajib dilawan dan diluruskan.
Golongan syi’ah yang ketiga, menurut FPI, adalah syi’ah mu’tadilah yang hanya mengutamakan Ali bin Abi Thalib ra di atas para Shahabat Nabi lainnya (Abu Bakar ra, Umar Ibnul Khattab ra, Utsman bin Affan ra), dan lebih mengedepankan hadits riwayat ahlul bait daripada perawi hadits lainnya. Meski begitu, golongan syi’ah ketiga ini tidak segan-segan mengajukan kritik terhadap sejumlah sahabat secara ilmiah dan elegan, begitu menurut FPI. Nah, syi’ah mu’tadilah inilah yang disebut sebagai salah satu madzhab dalam Islam (madzhab Ja’afari) yang konon juga diakui eksistensinya oleh Prof. DR. Yusuf Qardhawi. Kelompok syi’ah ini menurut FPI sebaiknya dihadapi dengan da’wah dan dialog, bukan dimusuhi.
Bila dari penjelasan FPI soal syi’ah yang begitu akomodatif, kemudian ada sekelompok orang yang membanding-bandingkannya dengan sikap FPI terhadap Ahmadiyah, kemudian mereka merasakan adanya standard ganda yang diterapkan FPI di dalam menyikapi kedua paham sesat tadi, maka jangan heran dari situ lahir cibiran atau tudingan bahwa FPI tebang pilih.
Penggolongan syi’ah sebagaimana teruraikan di atas, (disengaja ataupun tidak) justru menguntungkan penjaja paham sesat syi’ah. Karena, dua golongan di atas (Ghulat dan Rafidhoh) bisa saja mengaku-ngaku sebagai syi’ah mu’tadilah. Apalagi di dalam keimanan syi’ah konsep taqiyah merupakan ibadah. Akibatnya, umat Islam bakalan dikibulin terus oleh syi’ah jika tanpa waspada mau menerima syi’ah mu’tadilah (madzahab Ja’fari, menurut pembagian bikinan ini) sebagai bagian dari Islam.
Buktinya, Jalaluddin Rakhmat yang mengaku bukan syi’ah tetapi Su-Syi, dan merupakan tokoh utama Ijabi (ahlul bait), ternyata dalam pemahaman dan sikapnya tak bisa melepaskan diri dari berkeyakinan Ghulat dan bersikap Rafidhah. Hingga buku karangan Jalaluddin Rakhmat  pun dilarang di Malaysia, yakni berjudul “Tafsir Sufi Al-fatihah Mukadimah” terbitan PT remaja Rosdakarya, Bandung. (Tiga Buku Syiah Terbitan Indonesia Dilarang di Malaysia, 20 March 2012 | Filed under: Aliran Sesat,Dunia Islam,Featured,Syi’ah | Posted by: nahimunkar.com http://nahimunkar.com/11729/tiga-buku-syiah-terbitan-indonesia-dilarang-di-malaysia/)
Penjelasan dan penggolongan syi’ah sebagaimana tersebut di atas hanya memperkuat dugaan bahwa Habib RS memang cenderung kepada syi’ah. Kesesatan syi’ah yang sedemikian dahsyatnya masih bisa ia tolerir, sementara itu, kesesatan Ahmadiyah dan lain-lainnya (yang menurut pemahaman umat Islam sebanding dengan kesesatan syi’ah) disikapi begitu gegap gempita. (Ini sama sekali bukan karena membela Ahmadiyah dan lainnya, tetapi untuk membandingkan saja. Di samping sikap yang tebang pilih dalam menghadapi aliran sesat, masih pula perlu dipertahnyakan: Mana mungkin orang yang tidak cenderung kepada kesesatan (syiah) berkarib-karib dengan pentolan-pentolan syiah. Dari situ saja sebenarnya sudah jelas dan terang).
Penggolongan syi’ah tersebut di atas bagi sebagian kalangan justru akan ditafsirkan sebagai strategi dagang para penjaja paham sesat syi’ah. Mula-mula ditawarkan syi’ah yang mu’tadilah. Kelak kalau sudah berhasil, dinaikkan peringkatnya untuk menerima Rafidhoh. Terus ditingkatkan lagi hingga bisa menerima Ghulat. Dan bagaimanapun, syiah yang di sini jelas-jelas dari Iran yang di sana para ulama sunni (ahlus sunnah) dibunuhi, masjid-masjidnya dihancurkan dan madrasah-madrasahnya ditutup. KH Athian Ali da’I dari Bandung yang pernah ke Iran mengatakan, pihak kedutaan Indonesia di Teheran mau mengadakan shalat Jum’at saja dihalang-halangi di sana. Hingga hanya dapat dilaksanakan sekitar 20-an orang di dalam kedutaan itu, karena memang dihalangi.
Baca entri selengkapnya »

Ide Memiskinkan Media Sekuler…

Maret 11, 2012
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Gerakan-gerakan dakwah Islam di Indonesia perlu meningkatkan taraf perjuangannya, sebab tantangan-tantangan yang dihadapi semakin berat, komplek, dan sangat tajam. Kita tidak bisa hanya memakai cara-cara lama untuk menyikapi realitas kontemporer yang semakin rumit ini. Perlu ada terobosan-terobosan baru untuk memecah kebuntuan, demi menyelamatkan eksistensi Islam di bumi Nusantara.
Sebuah contoh mudah, adalah demo para aktivis Islam dengan tajuk: “Indonesia Damai Tanpa Liberal”. Untuk aksi besar ini ternyata liputan media TV dan koran-koran sangat minim. Sehingga Habib Rieziq menyimpulkan, “Karena kita bukan bencong, banci, dan homo, maka tidak ada televisi yang meliput aksi kita.” Itu kan artinya, media-media sekuler tersebut telah nyata-nyata dikuasai manusia-manusia amoral seperti banci, bencong, homo, free sex, dan seterusnya.
Dalam kasus sebelumnya di Palangkaraya, ada ratusan atau ribuan kaum Dayak berusaha mengepung dan mengancam keselamatan beberapa pimpinan FPI. Bahkan mereka terus memburu, sekalipun para pimpinan itu sudah berada di Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Hal ini lalu menjadi angle bagi media-media untuk JUSTRU menjelek-jelekkan FPI dan menghembuskan isu pembubaran ormas Islam tersebut. FPI jadi korban mereka dituntut dibubarkan, apalagi kalau FPI yang melakukan aksi pengepungan? Jangan-jangan media-medis sekuler itu akan menuntut Islam dibubarkan? Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
Kasus-kasus kezhaliman media ini bukan sekarang saja. Sudah sangat sering. Dalam isu-isu terorisme, betapa banyak media yang ikut “membunuhi” para aktivis Islam, di balik punggung Densus88 dan aparat kepolisian. Begitu juga dalam kasus Cikeuting, Cikeusik, Pemalang, Kuningan, dll. Termasuk tentunya kasus Insiden Monas, 1 Juni 2008. Intinya, media-media itu memang benar-benar anti Islam, pro demoralisasi kehidupan bangsa, dan tidak bersikap adil layaknya media yang jujur-obyektif (sesuai kode etik jurnalistik yang menjadi panduan insan media di Indonesia selama ini).
Singkat kata, peranan media-media sekuler ini bukan saja membahayakan Islam dan kaum Muslimin. Tetapi juga sangat membahayakan bangsa dan negara. Sangat jelas bahwa mereka lebih pro industrialisasi, pro kepentingan asing, pro kepentingan konglomerat, pro kepentingan politik partai tertantu, pro liberalisme kehidupan, dan seterusnya. Demi Allah, agenda liberalisme kehidupan itu sangat kuat dampaknya dalam merusak MORAL BANGSA; pada gilirannya ia akan menghancurkan bangsa Indonesia ini sendiri. Jangankan berdasarkan Syariat Islam; berdasarkan UUD 1945 dan prinsip-prinsip Pancasila saja, liberalisme kehidupan itu amat sangat bertentangan. Hanya lagi-lagi, media sekuler selalu menyembunyikan semua itu.
Pertanyaannya: Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meruntuhkan eksistensi media-media sekuler ini?
Ummat Islam bisa membentuk sebuah komite advokasi Muslim (semodel Tim Pembela Muslim) yang khusus dibuat untuk melakukan gempuran-gempuran hukum terhadap media-media sekuler anti Islam itu. Komite ini tidak bertugas lain, selain hanya menggempur media-media sekuler yang selalu merugikan kepentingan Ummat Islam itu. Sebab, kalau kita tidak bisa melawan sebaran media mereka melalui media yang seimbang; kita bisa melawan mereka dengan jalur hukum. Dasar pemikirannya sederhana: “Setiap pelanggaran secara sengaja atas hak-hak kaum Muslimin oleh siapapun, bisa dicarikan landasan pelanggaran hukumnya, sekalipun dalam format hukum positif yang berlaku di Indonesia.”
Para ahli hukum Muslim bisa menggali banyak landasan hukum untuk menjerat media-media sekuler itu dengan pasal-pasal pelanggaran hukum, menurut versi hukum yang berlaku. Secara teknis, pelanggaran-pelanggaran itu perlu lebih sering dilimpahkan ke jalur hukum; tidak melulu dilakukan solusi-solusi negosiasi “kekeluargaan”. Bahkan dari pengalaman-pengalaman ini komite advokasi Muslim bisa belajar banyak, sehingga akan membuka celah-celah kekalahan media-media itu secara hukum. Tujuan akhirnya, ialah meruntuhkan media-media itu dengan tuntutan ganti-rugi yang sangat memberatkan beban keuangan mereka. Kalau perlu dituntut dengan nilai triliunan rupiah.
Memang ada peluang ralat, permohonan maaf, dan sebagainya yang dilakukan oleh media. Tetapi kalau mereka SERING melakukan permohonan-permohonan maaf, hal itu akan menghancurkan CITRA mereka sebagai media yang kredibel. Bahkan dengan semua catatan buruk media tersebut, kita bisa mencatat permohonan-permohonan maaf mereka dalam “Daftar Hitam Sejarah Hitam Media Sekuler”. Hal ini secara moral sangat berat bagi mereka.
Ide memiskinkan media-media sekuler, sama seperti ide memiskinkan para koruptor. Kalau mereka berhasil dilorot kekuatan kapitalnya, maka insya Allah tidak akan berani macam-macam dan kurang ajar. Pak Munarman, SH. bisa didorong untuk memasuki wilayah advokasi anti media sekuler ini. Dengan tentunya, beliau mesti bisa menurunkan sedikit tensi-nya ketika berhadapan dengan manusia-manusia sekuler itu.
Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah kontribusi dalam rangka melindungi, membantu, dan menolong kaum Muslimin dari segala kezhaliman elemen-elemen sekuler (semoga Allah menuntun mereka menuju taubat dan Syariat Islam, amin). Hanya kepada Allah kita berlindung diri, di atas urusan agama, dunia, dan akhirat. Allahumma amin.
AMW.

Partai Demokrat Tambah Ancur Cur…

Februari 22, 2012
Baru-baru ini situs suara-islam.com memuat berita yang sangat heboh. Heboh…boh…boh. Beritanya tentang skandal seks yang pernah Ulil Abshar Abdala lakukan dengan seorang cewek bernama, Marchelinta. Parah, parah, parah banget. “Sesuatu bhangghetth…” kata anak-anak ABG.
Berita lengkapnya baca artikel berikut: FPI Buka Skandal Seks Dedengkot JIL. Disini diungkap foto-foto pesan BBM Ulil Abshar. Disana terlihat jelas foto dan nama Ulil Abshar. Parah, parah, parah baaaangghetth…
Ulil Sedang Pusing 7 Putaran…
Berikut ini kata-kata Ulil Abshar dalam BBM ketika dia merasa cemburu dengan Marchelinta: “Kamu menyakiti aku berkali2. Aku berusaha sabar. Yg terakhir kemaren itu, aku sudah tak tahan. Aku baru saja kirim bunga Valentine ke kamu, tiba2 kamu pacaran dengan cowo lain, dan kamu tunjukin di pp BB.”
Kasihan bangghetth Si Ulil. Dia sudah nafsu, sampai begitunya. Apa dia gak inget anak-isteri ya? Wal ‘iyadzubillah min dzalik.
Partai Demokrat (PD) yang sudah carut-marut, dengan tersebarnya berita ini semakin nyungsep saja. Kasihan Pak Sebeye. Mungkin sebentar lagi dia akan menggubah lagu baru, bertema melankolik. “Betapa malang nasibku… Semenjak ditinggal ibu….” Jadi teringat lirik lagu Ratapan Anak Tiri yang sangat populer saat aku duduk di bangku SD dulu. Lagu ini kalau dinyanyikan Pak Sebeye, mungkin bisa menaikkan pamornya. Meskipun tentu jadi tampak lebay sekali.
Sangat menyedihkan. Padahal Ulil Abshar ini kan menantu KH. Mustafa Bisri, seorang kyai terkenal asal Rembang. Bagaimana perasaan dia dan keluarganya ketika melihat kelakuan menantunya seperti itu?
Ya, orang-orang yang berani melecehkan Syariat Islam, dia akan dilecehkan oleh Allah Ta’ala. “Innalladzina yuhaaddunallaha wa rasulahu kubitu kamaa kubitalladzina min qablihim” (sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka akan dihinakan seperti telah dihinakan orang-orang sebelum mereka). [Al Mujaadilah: 5].
Kalau ada yang bertanya, bagaimana cara menghukum orang-orang seperti Ulil Abshar, atau Habib “Homoseks” Hasan bin Ja’far Assegaf (Pemimpin Majelis Taklim Nurul Mustofa) itu? Bagaimana baiknya?
Ya, kalau menurut hukum Islam, ya dihukum rajam, sampai mati. Untuk pelaku homoseks, boleh juga dihukum mati, meskipun bukan dengan rajam. Kalau tidak salah, ada pembahasan soal itu.
Kalau hukum seperti itu sulit diterapkan, bolehlah dihukum dengan beberapa alternatif berikut ini:
==> Dilemparkan ke kandang buaya, buat tambahan ransum. Biar nanti matinya pelan-pelan. Mula-mula tangan dulu ilang, lalu kaki, lalu ini, itu, dan seterusnya.
==> Atau dibuat tambahan pakan ternak.
==> Atau kalau mau, dijadikan obyek eksperimen di kandang ikan hiu. Ya, kita mau lihat, apa dagingnya masih disukai ikan itu atau tidak?
Ini hanya sekedar intermezzo. Intinya, wajah Partai Demokrat semakin gak karu-karuan. “Betapa malang nasibku…,” terdengar seorang pemimpin politik melantunkan lagu melankolik.

Konspirasi: FPI Jadi Korban, FPI Dihujat !!!

Februari 14, 2012
Kalau jujur mau mengakui, di Indonesia ini banyak orang-orang aneh. Lihatlah kelakuan media-media yang kini gencar menyerang FPI. Mereka itu kelihatan pintar, intelektual, cerdas; tetapi moralitasnya ambruk. Sayang, sangat disayangkan sekali. Nas’alullah al ‘afiyah fid dunya wal akhirah.
Sudah jelas-jelas beberapa hari kemarin, saat kunjungan ke Kalimantan Tengah, beberapa tokoh FPI nyaris menjadi sasaran amuk massa dan pengepungan komunitas-komunitas Dayak anarkhis. Buktinya, DPP FPI melaporkan Gubernur dan Kapolda Kalteng ke mabes Polri untuk beberapa tuduhan sekaligus. Salah satunya, upaya pembunuhan pimpinan FPI.
FPI Jadi Korban, Kok Malah Dihujat. Aneh Sekali Kan? Ada Apa Ini?
Tapi aneh bin ajaib. FPI yang jadi korban, FPI juga yang dihujat. Dalam demo di Bundaran HI, Ulil Abshar dan kawan-kawan menyerukan agar FPI dibubarkan. Media-media massa, termasuk MetroTV dan TVOne, tidak segan-segan memberi CORONG GRATIS kepada siapa saja yang anti FPI, dengan tentunya -seperti biasa- mereka tinggalkan etika Cover Both Side. Kompas malah sangat kacau (kalau tidak disebut rusak nalar), media itu mengutip pernyataan Din Syamsuddin yang katanya menolak ormas anarkhis. Padahal dalam perkataan Din, tidak ada pernyataan ormas anarkhis.
Paling parahnya, SBY juga ikut-ikutan menyudutkan FPI. Dia meminta agar FPI instropeksi diri. Orang ini aneh sekali. Masalah hukum soal “ancaman pembunuhan” tokoh-tokoh FPI belum dia bahas, malah sudah meminta FPI instropeksi diri. Hal begini ini kan sangat kelihatan kalau kasus FPI itu sebagai pengalihan isu, ketika Partai Demokrat sedang dilanda “Tsunami Besar” akibat kasus-kasus korupsi yang melibatkan elit-elit mereka. Kita mesti ingat, di masa-masa sebelum, setiap ada masalah besar menimpa Pemerintah SBY, selalu saja ada “jalan keluar” berupa kasus-kasus terorisme, kerusuhan agama, dan lainnya.
Nah, disinilah kita saksikan betapa anehnya kelakuan orang-orang Indonesia. Sudah tahu, mereka itu sakit dan banyak menanggung penyakit. Bukannya berobat atau menahan diri, agar sakitnya tidak semakin parah. Malah mereka semakin menghujami dadanya dengan belati tajam, untuk menghancurkan dirinya sendiri. Aneh…aneh…tidak waras!
Kalau dicermati, tampak adanya KAITAN antara insiden di Palangkaraya, respon media-media massa yang begitu cepat, gerakan demo anti FPI dipimpin oleh seorang tokoh Partai Demokrat, serta pernyataan SBY. Semua elemen-elemen ini tampaknya saling berkaitan satu sama lain, menggarap isu FPI, dalam rangka mengalihkan perhatian masyarakat dari bencana korupsi yang kini sedang menimpa jajaran elit Partai Demokrat.
Kalau dianalisis lebih dalam, kita bisa melihat adanya model skenario yang KEMUNGKINAN dijalankan, untuk menjebak FPI dalam pusaran kasus sosial; lalu kasus itu dipakai untuk tujuan-tujuan politik.
Pertama, FPI diundang datang ke Kalteng untuk membela masyarakat yang katanya dizhalimi oleh Gubernur Kalteng. Mengapa FPI ingin dilibatkan? Karena FPI secara gagah berani membela warga Mesuji, Lampung. Kasus Mesuji itu bisa menjadi titik peluang untuk mengundang FPI ke Kalteng.
Kedua, ketika di Kalteng, pihak Gubernur sudah menyiapkan penyambutan bagi tokoh-tokoh FPI yang akan datang. Menurut informasi, gerakan massa dimulai dari kantor Gubernur Kalteng. Aneh sekali, kantor negara dipakai untuk merencanakan gerakan-gerakan anarkhis.
Ketiga, terjadi insiden di lapangan udara Palangkaraya, berupa penolakan dan pengepungan pesawat oleh massa anarkhis, dengan membawa senjata tajam dan mengeluarkan kata-kata makian. Alhamdulillah, tidak ada satu pun tokoh FPI yang cidera secara fisik. Insiden terjadi lagi saat tokoh-tokoh FPI singgah di Banjarmasin.
Keempat, sebelum insiden terjadi pihak FPI sudah mencium ada gelagat tidak beres di Kalteng. Dan lebih mengherankan lagi ketika Kapolda Kalteng angkat tangan, tidak mau tanggung-jawab kalau tokoh-tokoh FPI tetap datang ke Kalteng. Hal ini membuktikan, bahwa ada SKENARIO BESAR yang tak sanggup dihadapi oleh Kapolda Kalteng.
Kelima, setelah terjadi insiden Kalteng, para aktivis LIBERAL dan KOMPRADOR di Jakarta sudah menyiapkan demo untuk menggugat FPI. Media-media massa sudah siap “nampani” amanah untuk menggebuk FPI dari sisi opini media. Kompas, Detik.com, MetroTV, TVOne, Kantor Berita Antara, dll. sudah siap untuk memanaskan situasi. Mereka lupa sama sekali dengan kenyataan, bahwa tokoh-tokoh FPI hampir habis dikeroyok komunitas Dayak anarkhis.
Keenam, sebagai bagian dari skenario ini ialah pernyataan SBY yang meminta agar FPI instropeksi diri. Ditambah lagi pernyataan Mendagri Gamawan Fauzi, bahwa ormas anarkhis bisa dibekukan.
Hal-hal seperti di atas bisa dibaca secara terpisah-pisah, bisa juga dibaca sebagai sebuah kesatuan skenario, demi menjatuhkan FPI dan mencapai target politik tertentu. Lagi pula hal-hal demikian sudah sering terjadi. Saat kapan saja ketika Pemerintah SBY atau Partai Demokrat sedang terdesak, selalu ada “jalan keluar” untuk mengalihkan perhatian publik. Yang paling sering dipakai adalah isu TERORISME, ormas anarkhis, dan kerusuhan berbasis agama.
Tapi yang paling kasihan dari semua ini ya…masyarakat Indonesia selama ini (dan tentu saja aktivis-aktivis Islam yang sering “digunakan” oleh negara sebagai “jalan keluar”). Masyarakat terus disuduhi kebohongan, penyesatan, skandal, konspirasi, pengkhianatan, kezhaliman, dan seterusnya.
Yah, bagaimana hidup akan aman, tentram, dan damai; kalau cara-cara licik seperti itu selalu dipakai? Mau hidup damai dimana, Pak, Bu, Mas, dan Mbak? Anda hendak sembunyi di dasar inti bumi sekalipun, kalau OTAK LICIK itu masih ada, nonsense akan ada kedamaian. Yang ada hanyalah kemunafikan telanjang; mengaku anti kekerasan, padahal paling terdepan dalam membela kezhaliman. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
Ya Allah ya Rahman, selamatkanlah kaum Mukminin, Mukminat, Muslimin, dan Muslimat; dimana pun mereka berada, khususnya di negeri Nusantara ini. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.
Abah Syakir.

Gamawan Fauzi Ingin Melindungi Tape Ketan. He he he…

Januari 14, 2012
Ada yang lucu dari argumen Mendagri, Gamawan Fauzi, dengan tokoh-tokoh FPI & FUI, pasca demo di sekitar kantor Kemendagri (Kamis, 12 Januari 2012) lalu. Dalam dialog yang dilakukan, Mendagri mengkhawatirkan pelaksanaan Perda Miras di kota/kabupaten tertentu, bisa mengganggu eksistensi makanan tradisional, seperti tape singkong dan ketan hitam.
Data faktualnya sebagai berikut:
5. Mendagri pada prinsipnya tidak melarang Perda Anti Miras, hanya dikhawatirkan Perda Anti Miras yang melarang total peredaran minuman / makanan beralkohol tersebut akan berimbas kepada makanan tradisional yang juga mengandung alkohol seperti tape singkong dan tape ketan dan yang sejenisnya, sehingga bisa menimbulkan problem sosial baru di kemudian hari. Ada pun Miras yang merusak masyarakat pada prinsipnya Mendagri sangat setuju untuk dilarang. (Inilah Kesimpulan FPI Hasil Pertemuan dengan Mendagri, Suara-islam.com, 13 Januari 2012).
Dalam dialog dengan KH. Amidan (dari MUI) dan Romaharmuzy (dari PPP) di salah satu TV swasta, Gamawan Fauzi juga menekankan soal makanan tradisional yang mengandung alkohol, seperti tape singkong dan tape ketan. Jadi, alasan tape itu memang serius, sehingga sering dipakai sebagai “senjata” oleh Pak Menteri. Lucu juga…
Hal-hal demikian ini tampak lucu… Tapi tergantung selera humor juga. Kalau seleranya “sekelas OVJ” kagak bakalan ngerti deh. Wong, lawakan di Trans7 itu benar-benar nyampah… Sama juga nyampah-nya dengan lawakan “komedi projek” di TransTV. Nonton lawakan begituan bukan tambah sehat, malah tambah sakit…
Coba kita renungkan…
PERTAMA, sejak kapan Mendagri begitu peduli dengan tape singkong dan tape ketan? Wuih, hebat, hebat banget… Kalau Walikota Solo Jokowi peduli dengan Mobil ESEMKA. Nah, ini Pak Menteri (atasan Jokowi) peduli dengan tape singkong dan tape ketan. Wuih wuih wuih…hebat betul. Beliau layak menjadi “Bapak Makanan Tradisional”, khususnya “Bapak Tape Ketan”.
KEDUA, sebenarnya eksistensi tape singkong, tape ketan, atau peuyeum (dalam tradisi masyarakat Sunda) bukan hal baru lagi. Ini sudah aja sejak ratusan tahun lalu. Makanan-makanan demikian, dalam bentuk padatan, tidak pernah menjadi pemicu kriminalitas, tawuran, perkelahian, dll. Seperti di Madiun terkenal dengan makanan Brem. Ini juga dibuat dari saripati air tape ketan. Tapi baik-baik saja. Tidak ada klaim, orang makan Brem lalu tawuran. Jadi sebenarnya, makanan tradisional ini bukan sumber masalah sosial.
KETIGA, air dari tape ketan memang bisa dibuat tuak (minuman keras). Ini bisa dan memang ada praktiknya. Tetapi semua orang bisa membedakan dengan jelas mana tape ketan dan mana tuak? Itu bedanya jelas, lho. Kalau sudah berupa tuak, maka konsumennya pun berbeda. Untuk tape ketan, yang makan segala golongan; tetapi untuk tuak, yang mengonsumsi ya kalangan “tukang mabuk” saja. Itu beda Pak Menteri.
KEEMPAT, secara Syariat Islam, masih ada perselisihan. Sebagian orang menganggap makanan seperti tape ketan atau tape singkong tidak boleh dikonsumsi, karena mengandung alkohol. Sebagian lain berpendapat boleh dikonsumsi, sebab makanan itu bukan KHAMR (minuman memabukkan yang biasa dikonsumsi tukang mabuk). Makanya, hukum tape ketan itu masih “di tengah-tengah”, antara yang tidak membolehkan dan membolehkan. Tetapi semua pihak sepakat bahwa tuak (minuman keras) memang diharamkan.
Jadi, alasan Pak Menteri sangat mengada-ada. Itu adalah alasan yang dicari-cari. Logika mereka, “Pokoknya harus ada yang bisa dipakai mendalili pencabutan Perda Anti Miras. Cari saja deh, apapaun dalilnya.” Posisi tape singkong atau tape ketan itu masih diperdebatkan di kalangan ahli fiqih Islam di Tanah Air. Jadi, bagaimana bisa ia masuk dalam aturan Perda Miras yang melarang beredarnya minuman keras? Tidak akan masuk kesana, Pak Menteri.
Perlu diketahui, untuk membuat miras itu bisa dengan banyak bahan. Singkong atau ketan, hanya sebagian bahan saja. Miras bisa dibuat dari gandum, dari air aren, dari jus buah, dll. Bahkan anggur itu terkenal sebagai salah satu bahan baku pembuatan miras di dunia. Kalau misal masalah tape singkong dan ketan dianggap masalah, jangan-jangan nanti anggur juga dilarang? Apakah akan sejauh itu? Masya Allah…
Mungkin karena saking kepepet, alasan apapun dipakai. Meskipun tidak logis… Tentu ini lucu sekali. Meskipun, pada akhirnya, kembali ke “selera humor” masing-masing orang. Iya kan… Tapi yang jelas, kalau Anda membaca artikel ini lalu tertawa terbahak-bahak seperti orang nonton OVJ Trans7, wah bahaya tuh… Perlu periksa ke psikiater. Sok geurak periksa. Khawatir aya nanaon… He he he…

Mine.


Kok Ada Manusia Sekeji Itu…

Maret 17, 2011
Sekali waktu, cobalah Anda lakukan simulasi sederhana berikut ini. Saat siang hari yang panas, badan terasa gerah dan lusuh, cobalah Anda ke kamar mandi, lalu basuh muka Anda sedalam-dalamnya (maksudnya, cuci muka sampai sesegar mungkin). Setelah itu, muka jangan dilap pakai handuk. Meskipun air bercucuran dari rambut, biarkan saja. Lalu berdirilah di depan sebuah cermin agak besar. Selanjutnya, lihat diri Anda di cermin itu!
Ini adalah sebuah “test humanitas”, untuk mengetahui bahwa dalam diri kita masih ada sifat-sifat kemanusiaan. Kalau saat Anda melihat wajah di cermin, Anda tersenyum; lalu disana ada rasa bahagia dalam hati. Insya Allah, Anda masih memiliki HATI NURANI. Kalau setelah segar cuci muka, saat menetes air dari rambut, melihat ke cermin; lalu Anda merasa muak melihat diri Anda sendiri, Anda merasa melihat wajah “badut” yang disembunyikan di balik make up (dan retorika tinggi); itu tandanya hati nurani Anda sudah rusak. Bahkan, orang yang rusak nurani, tidak akan berani melakukan “test humanitas” seperti di atas.
Lagu Ebiet: Dalam Kekalutan, Masih Banyak Tangan yang Tega Berbuat Nista.
Ini perlu disampaikan, sebab akhir-akhir ini kehidupan kita terasa sangat letih, perih, penuh duka dimana-mana. Dunia terasa sesak dengan fitnah, kebohongan terbang bagai asap, mengotori seisi negara; tipu-daya menjadi AZAS kehidupan yang diyakini mayoritas kaum elit. Di saat seperti ini, sifat-sifat kemanusiaan semakin langka. Kalau kemunafikan atau tipu-daya, bertebaran ada dimana-mana.
Lihatlah, betapa sangat KEJI dan KEJI sekali. Rasanya, tidak sanggup hati nurani kita mencerna semua ini. Rasanya, ini bukan dunia kita, bukan kehidupan kita; tetapi kehidupan makhluk lain (yang berwarna hitam, bertanduk dua, dan mendengki Bani Adam As).
Keji, keji, keji sekali… Tak terbayangkan betapa kejinya…
Tanggal 11 Maret 2011 lalu terjadi gempa bumi dan Tsunami dahsyat di Jepang. Luar biasa bencana ini. Kota-kota di pesisir Timur Jepang luluh-lantak. Kota hancur, infrastuktur hancur, ribuan manusia tewas. Kota-kota itu seperti bentuk miniatur yang disiram dengan air deras, seketika berantakan, seperti tahu campur. Ribuan manusia tewas, mereka tertimbun bersama material tanah, bangunan, kayu, logam, mobil, perabot rumah, dll. Benar-benar seperti rujak petis yang diuleg.
Dalam situasi seperti itu… Sebagai manusia berakal, kita tentu trenyuh, merasa iba, dan sangat sedih. Ya Allah, begitu dahsyat bencana ini. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Sangat sedih melihat wajah anak-anak balita di Perfektur Miyagi. Puluhan anak, dijaga oleh ibu gurunya. Wajah mereka masih bersih, masih dekat dengan fitrah. Tetapi orangtuanya tidak tahu kemana, apakah masih selamat atau sudah teraduk bersama ribuan ton material yang dihanyutkan air? Hanya Allah yang Tahu.
Sebagai manusia, sebagai Muslim, kita merasa haru dengan semua ini. Maka sangat indah sekali ketika FPI membuat surat ke Kedubes Jepang, menawarkan diri ikut mengevakuasi korban bencana. FPI bukan hanya memprotes keras kedatangan Miyabi yang akan merusak moral bangsa Indonesia; tetapi juga mengulurkan bantuan untuk mengevakuasi korban, saat Jepang dilanda bencana dahsyat.
Nasdem milik Surya Paloh saja tidak seberani itu, tetapi FPI membuktikan dirinya sebagai komunitas bermoral tinggi. Alhamdulillah. Meskipun, dalam berita-berita di MetroTV, FPI sering diserang sebagai “preman berjubah” oleh presenter-presenter TV itu.
Nah, kita semua tahu, betapa sangat menderitanya bangsa Jepang saat ini. Kita tahu, betapa tengik-nya ekspansi bisnis Jepang yang memborong bisnis konsumsi di Indonesia. Kita tahu, betapa atheis-nya manusia Jepang dalam soal agama. Kita tahu, betapa rusaknya moral generasi muda mereka, dan betapa mereka mendewa-dewakan free sex. Kita tahu itu.
Tapi, di sisi sifat kemanusiaan kita, tetap ada belas kasih, tetap ada rasa haru, tetap ada empati melihat penderitaan manusia-manusia Jepang itu. Alhamdulillah. Inilah karakter dasar HATI NURANI, yaitu selalu mengasihi manusia yang menderita; apapun keyakinannya. Kalau bisa, kita membantu meringankan kesusahan mereka. Siapa tahu, dengan uluran tangan ikhlas itu, mereka akan mendapat hidayah Allah.
Nah, dalam kondisi manusia sedunia sedang berduka seperti ini. Dalam kondisi kita sudah berduka atas konflik berdarah di Timur Tengah. Tiba-tiba muncul “Bom Ulil Abshar” di Utan Kayu. Bukan main-main, bom ini katanya: Dikirim oleh TERORIS, untuk MEMBUNUH tokoh JIL yang telah divonis halal darahnya, dan tujuan akhirnya mengacaukan negara.
Masya Allah, masya Allah, masya Allah… Entahlah, apa lagi yang bisa dikatakan? Ini kehidupan apa sebenarnya? Kehidupan manusia, atau kehidupan syaitan?
Dunia lagi bersedih dengan terjadinya bencana Tsunami di Jepang, ledakan reaktor nuklir, juga konflik berdarah di Libya; tiba-tiba tangan-tangan intelijen kotor membuat bom, dengan sasaran orang tertentu. Tujuannya sangat amat jelas: MEMFITNAH kalangan Islam dengan isu terorisme!!! Agar nanti ada penangkapan-penangkapan lagi, tembak-tembakan lagi, perburuan lagi, dan seterusnya. Ya, layaknya sinetron terorisme yang sudah-sudah.
Kelihatan sekali “Bom Ulil Abshar” itu untuk memfitnah Ummat Islam. Disana disebutkan Ulil Abshar halal darah, berdosa dan berhak dibunuh, bahkan ada istilah “daftar bunuh”. Disertai identitas penulis dengan gelar Lc.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…
Kok ada ya manusia sekeji itu… Di saat dunia lagi berduka, mereka membuat operasi-operasi untuk memfitnah kaum Muslimin di Indonesia. Aduh, kasihan sekali nasib Muslim di negeri ini. Mereka terus dikerjai oleh tangan-tangan kotor intelijen, demi tujuan syahwat belaka.
Mungkin, para konspirator itu merasa aman dari SIKSA Allah dan adzab-Nya. Mereka merasa jumawa dan bisa berbuat apa saja. Termasuk menghancurkan kehidupan orang-orang beriman. Mereka merasa BEBAS, AMAN, TIDAK ADA SANKSI APAPUN. Padahal sanksi itu sudah dekat dengan mereka. Sanksi itu sudah dekat, sudah dekat sekali. Sebab kezhaliman tangan-tangan konspirator itu sudah tak termaafkan lagi. Mereka sudah di titik kulminasi kezhaliman. Yakinlah, Allah Ta’ala akan menggulung mereka, dan membenamkannya dalam Jahannam selama-lamanya. Allahumma amin.
Kok ada manusia sekeji itu… Saat bangsa lain sedang berduka, bukannya empati, malah membuat fitnah untuk para aktivis Islam.
AM. Waskito.

Revolusi Islam dan Tirani Media

Maret 2, 2011
Tanggal 1 Maret 2011 kemarin, ribuan Ummat Islam dari FPI-FUI menggelar aksi massa dan longmarch ke Istana Negara. Agendanya jelas, menuntut dibubarkannya Ahmadiyyah, atau SBY dilengserkan dari jabatan RI-1.
Hanya sayangnya, aksi massa ini seperti sebelum-sebelumnya, jarang dipublikasikan oleh media-media TV. Berbeda dengan aksi demo-demo di Timur Tengah untuk menumbangkan para penguasa diktator, media-media seolah tak kehilangan nafas untuk memberitakan demo-demo itu. Sebagian beritanya didramatisir tidak karuan.
Hal ini mengingatkan kita kepada demo-demo tahun 1998 lalu di Indonesia. Tanpa bantuan publikasi media TV seperti RCTI, SCTV, Indosiar, dll. sulit sekali demo-demo itu akan berkembang meluas ke seluruh Indonesia. Begitu pula, tanpa bantuan media TV, tidak mungkin akan tercipta demo-demo besar di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, Bahrain, dll. Media TV seperti Aljazeera dan Al ‘Arabiyah sangat berperan di balik tersebarnya api revolusi Arab itu.
Sekedar catatan, tahun 1990-1991 dunia menyambut hadirnya sebuah stasiun TV besar dari Amerika, CNN. Waktu itu CNN termasuk media TV yang sangat intens memberitakan perang Teluk antara Irak Vs Amerika dan negara-negara Sekutu. CNN dipuji-puji sebagai jurnalis TV yang sangat pemberani, karena melakukan liputan langsung ke arena peperangan. CNN menggeser peran Reuters, AFP, AP, dll.
Namun tahun 2001 CNN menjadi “humas George Bush” melalui pemberitaan yang intens tentang peledakan gedung WTC, 11 September 2001. CNN sangat intens melakukan kampanye “war on terror” dengan tajuk yang sangat jelas, “America Under Attack”. Sejak saat itu, kepercayaan dunia kepada CNN mulai merosot, terutama di negeri-negeri Muslim. CNN dianggap media sampah yang menjadi corong agenda George Bush.
Saat CNN merosot, tahun 2003 Amerika menginvasi Irak. Saat itu dunia dikejutkan oleh lahirnya TV swasta yang dijuluki “CNN-nya Timur Tengah”. Ia adalah Aljazeera dari Qatar. Sejak saat itu Aljazeera menjadi primadona dunia Islam, khususnya Timur Tengah. Meskipun sejujurnya, media ini berhaluan sekuler. Para presenter wanitanya, bukan hanya cantik-cantik, tetapi juga tidak berjilbab. Aljazeera sangat cepat merebut simpati dunia Islam, lalu disusul lahirnya TV sejenis, Al ‘Arabiyyah.
Husni Mubarak pernah berkunjung ke Qatar untuk melihat dari dekat TV Aljazeera. Ternyata, stasiun TV itu kecil. Kata Mubarak, “Aljazeera hanya sebesar korek api.” Artinya, TV itu sebenarnya kecil, tetapi gaungnya sangat kuat mempengaruhi akal, perasaan, dan emosi bangsa Arab.
Selama bertahun-tahun Aljazeera memerankan tugas penting, yaitu: Membongkar budaya berpikir bangsa Arab yang cenderung tradisional-Islami; meningkatkan agressifitas sosial berupa keberanian rakyat menuntut ini itu; meningkatkan nalar politik warga Arab agar tidak betah dengan sistem diktator; mengimpor ide-ide demokrasi sebagai alternatif sistem hidup bangsa Arab.  Peran ini secara tekun dilakukan oleh Aljazeera selama bertahun-tahun.
Dan, hasilnya dipanen saat ini tahun 2011, ketika timbul gejolak politik besar di Timur Tengah. Gejolak di Timur Tengah saat ini adalah PRODUK UTAMA metode siaran pers yang dikembangkan oleh Aljazeera dan kawan-kawan, selama bertahun-tahun. Dan resikonya, dari proses seperti ini kita sangat mencemaskan masa depan Islam di Timur Tengah. Bagaimana nanti nasib Islam ke depan? Apakah dunia Arab akan kembali ke Khilafah Islamiyyah? Atau mereka akan masuk dalam perangkap DEMOKRASI LIBERAL seperti di Indonesia? Wallahu A’lam bisshawaab.
Selama ini, bangsa Arab secara tradisional hidup dalam kultur Islam. Seburuk-buruk keadaan mereka, masyarakat Arab masih mengakui Islam, menghormati Al Qur’an, menghormati Sunnah Nabi, menerima fatwa-fatwa ulama, dan lainnya. Bila demokrasi liberal dibuka di negeri Arab, maka agen-agen Yahudi dan Amerika disana akan mulai menghujat Allah, menghujat Rasul-Nya, menghujat sejarah Islam, mempertanyakan otoritas Syariat Islam, dll. Semua itu mereka lakukan atas nama: kebebasan demokrasi!
Demi Allah, kita tidak ada yang suka dengan kezhaliman & kekejaman diktator-diktator Arab. Tetapi selagi Islam belum siap menggantikan posisi para diktator itu, maka rakyat Arab akan mencari alternatif lain selain Islam. Apakah itu? Pasti demokrasi liberal. Kalau ini yang dipilih, rakyat Arab bukan akan semakin baik, mereka justru akan semakin hancur. Negara, kekayaan, dan kehidupan mereka akan diinjak-injak oleh kaum kapitalis.
Media massa, khususnya media TV, mereka sejatinya bukanlah alat untuk mencerdaskan masyarakat, untuk membela aspirasi rakyat, untuk mengoreksi pemerintahan yang menyimpang, untuk membela kebenaran, untuk mengemukakan kejujuran ilmiah, dll. Bukan, bukan sama sekali. Media massa saat ini tak lebih dari: alat politik kaum kapitalis dan alat mencari makan kaum oportunis!
Sulit mewujudkan revolusi Islam di Indonesia, sebab media-media TV sudah dikuasai kaum sekuler-kapitalis. Mereka tak akan rela terjadi revolusi Islam. Jika demo-demo FPI-FUI tidak didukung media-media TV, ya jangan heran. Mereka jelas akan membela wali-walinya, bukan membela Islam.

AM. Waskito.

Ketika Ahmadiyyah Menjadi “Benang Kusut”

Februari 18, 2011
Hari ini bangsa kita kembali ribut soal Ahmadiyyah. Ini bukan keributan pertama, tetapi sudah berkali-kali. Bukan pertama kalinya terjadi insiden dalam soal Ahmadiyyah. Berulang-kali juga kita ribut-ribut. Dan endingnya, tidak ada apa-apanya. Ahmadiyyah tetap seger-buger, siap menjadi isu kerusuhan di masa depan; dan FPI lagi-lagi menjadi “kambing hitam”
Mari kita lihat masalahnya…
[1] Masalah Ahmadiyyah sebenarnya bukan masalah rumit. Ini masalah sepele. Para ulama sedunia sudah sepakat, Ahmadiyyah sesat-menyesatkan, bahkan mereka kufur alias non Muslim. Jamaah Ahmadiyyah pun dilarang naik haji ke Tanah Suci. Alasan kekufuran kelompok ini sudah jelas, antara lain: Meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi setelah Rasulullah Saw, mereka meyakini Kitab At Tadzkirah sebagai rujukan utama agamanya, mereka menghapuskan Syariat Jihad fi Sabilillah. Baik Ahmadiyyah Qadiyan atau Lahore, mereka bersekutu dalam kekufuran. Hanya saja, Ahmadiyyah Lahore lebih berbelit-belit dalam menyembunyikan kekufurannya.
[2] Inti kesesatan Ahmadiyyah, baik Qadiyan atau Lahore, ialah: Mereka menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai rujukan utama ajaran agama mereka. Ini adalah kesesatan besar. Selain Mirza Ghulam itu bukan ulama, dia juga bekerja untuk kolonialisme Inggris. Orang seperti ini tidak boleh dijadikan rujukan. Selain karena tidak berilmu, dia juga ber-wala (loyal) kepada orang-orang kafir. Siapa loyal kepada orang kafir, dia pun kufur. (Surat Al Maa’idah).
Hakikat Ahmadiyyah: Memuja Pemikiran Mirza Ghulam Ahmad. Padahal Dia Bukan Ulama Sama Sekali. Tidak Ada yang Mengkuinya Ulama, Selain Inggris.
[3] Aliran sesat seperti Ahmadiyyah itu WAJIB dibubarkan. Sebab ia akan menjadi POTENSI INSTABILITAS yang akan terus-menerus menggoyang sendi-sendi kerukunan beragama. Aliran seperti ini akan menjadi duri dalam daging kehidupan kaum Muslimin di Indonesia. Ia serupa seperti missi Kristenisasi -semoga Allah melaknat kaum kufur yang terus bekerja memurtadkan Ummat Islam itu-. Jangan pernah berharap akan ada perdamaian dan kerukunan, selama aliran-aliran sesat seperti itu terus dibiarkan.
[4] Bangsa Amerika dikenal sebagai bangsa paling liberal di dunia. Bertahun-tahun lalu, aparat FBI mengepung sebuah desa yang dijadikan markas oleh aliran Advent Davidian, yang dipimpin David Coresh. Desa itu dikepung dengan senjata lengkap, dikepung dengan helikopter, bahkan melibatkan panser-panser. Aliran Advent Davidian dianggap sesat dan tidak mau tunduk hukum Amerika, maka mereka dihabisi dengan kekerasan senjata. Buntut dari penyerangan itu, salah satu pengikut aliran itu, Timothy McVeigh, dia meledakkan sebuah truk penuh berisi bahan peledak di depan kantor FBI. Bagian depan kantor FBI hancur luluh akibat ledakan dahsyat itu. Nah, ini sebuah contoh cara negara liberal mengatasi aliran sesat.
[5] Untuk membubarkan Ahmadiyyah itu mudah. Mudah sekali. Toh, negara-negara Muslim lain sudah lama mengatasi masalah ini. Hanya saja, di Indonesia ini negara sudah tidak memiliki kedaulatan lagi. Secara formal, kita merdeka; tetapi secara faktual, kita tak lagi memiliki kemerdekaan. Kemerdekaan kita sudah disandra oleh bangsa-bangsa asing, termasuk oleh lembaga-lembaga donor dunia. Sebagai contoh, SUN (Surat Utang Negara) atau SBI (Surat Bank Indonesia) banyak dibeli oleh pemodal-pemodal asing. Apakah kita akan mengira bahwa pemodal-pemodal itu akan diam saja melihat perkembangan politik di Tanah Air? Pasti mereka akan ikut campur. Kepemilikan saham oleh asing dipakai sebagai alat untuk menekan regim (SBY). Para pemodal asing itu rata-rata mencintai aliran sesat seperti Ahmadiyyah itu, sebab sesuai kepentingan mereka.
[6] Dari sisi lain, bangsa Indonesia ini sudah mengalami “Kiamat Masalah”. Maksudnya, di negeri ini sudah bertumpuk amat sangat banyak masalah-masalah. Masalah sosial, politik, pendidikan, budaya, ekonomi, bisnis, birokrasi, hukum, pertahanan-keamanan, agama, individu, lingkungan, teknologi, dan seterusnya. Banyak dan sangat banyak sekali masalah. Kekuatan yang kita miliki, tidak cukup untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Mengapa terjadi demikian? Ya, karena bangsa ini sudah terlalu banyak berlumuran dosa, kedurhakaan, maksiyat, kezhaliman, kejahatan, dll. Allah Ta’ala tidak memberkahi kehidupan bangsa ini, karena dosa-dosa para peghuninya. Karena tidak diberkahi, kita tidak diberi TAUFIQ untuk mengatasi masalah-masalah kita. Ibarat pisau yang seharusnya tajam dan berguna untuk keperluan-keperluan bermanfaat, maka pisau di tangan kita bukan lagi tumpul pul, tetapi sudah tinggal kayu pegangannya saja. Mata pisaunya sudah tak ada.
Tak henti-hentinya kita mengingatkan bangsa Indonesia: “Berjalanlah dengan tuntunan Allah. Jangan mengikuti langkah-langkah syaitan. Maka hidupmu akan dicahayai, langkahmu akan dibimbing, urusanmu akan ditolong. Namun jika kalian meniti langkah Freemasonry, Yahudi, Nashrani, atheis, musyrikin, dll. demi Allah hidupmu akan semakin tenggelam dalam sengsara yang lebih-lebih perih dan panjang.”
Untuk membuktikan apakah kita mau menempuh jalan Allah Ta’ala, maka bubarkanlah Ahmadiyyah, dan tetapkan aliran itu sebagai kelompok di luar Islam. Hati orang-orang beriman pasti berdiri di atas sikap seperti ini. Kecuali orang-orang munafik, sesat, atau kufur yang berpura-pura memakai baju Islam.
Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan taufiq kepada kaum Muslimin di Indonesia. Semoga semakin banyak kaum Ahmadiy yang bertaubat, dan kembali kepada Islam, serta meninggalkan belenggu kesesatan yang ditinggalkan oleh pemikiran Mirza Ghulam Ahmad -semoga Allah melaknat dia sehina-hinanya-. Allahumma amin.
AMW.

Antara FPI dan Pancasila

Februari 16, 2011
Saat ini FPI mendapat serangan dari berbagai arah. Media-media liberal seperti MetroTV tidak henti-hentinya menyerang FPI. Termasuk tentunya para aktivis liberal, aktivis demokrasi, politisi, pejabat negara, dan lain-lain. Mereka saat ini sepakat untuk menghajar FPI. Kalau bisa, dalam waktu dekat FPI dibubarkan. Itu targetnya!
MetroTV sebagai jongos pelayan kepentingan bisnis China, tentu sangat membenci FPI. FPI adalah penghalang terbesar proses SEKULARISASI dan LIBERALISASI, seperti yang diperjuangankan MetroTV dan Surya Paloh. Mereka dalam persekutuannya dengan pemodal-pemodal China, pasti akan menghajar terus FPI. Apapun istilah akan mereka angkat, demi tujuan yang diinginkan pemodal-pemodal China, FPI dibubarkan. FPI jelas akan menjadi penghalang terbesar proses ANEKSASI bangsa Indonesia oleh jaringan bisnis China, yang saat ini sedang bersekutu mesra dengan MetroTV dan Surya Paloh. Surya Paloh sendiri punya obsesi besar untuk: “Merestorasi Indonesia dengan menggandeng kekuatan modal dan filosofi China.” Maka tidak heran, saat ini MetroTV benar-benar seperti “kantor kebudayaan China” yang sangat agressif dalam mempromokan keindahan budaya MUSYRIK China.
Ya Ummat Islam perlu berdoa, agar orang-orang MetroTV ini diberi hidayah, sehingga tidak menjadi jongos kaum penjajah. Di sisi lain, mereka jangan mempromokan budaya etnis China secara massif, sehingga kelak ia akan mengancurkan budaya nasional sendiri. Kalau mereka tidak mau berubah dan bersikap fair, kita doakan saja, agar MetroTV dihancurkan oleh Allah Ta’ala, dibuat porak-poranda lahir-batinnya, ditimpakan kehinaan dan kekacauan sistemik di dalam dirinya. (Amin Allahumma amin).
Disini banyak pertanyaan yang harus dijawab dan diuraikan…
Kerusuhan Ambon: Sejak Lama Kita "Diasuh" oleh Tragedi dan Kekerasan. Tiada Aparat yang Sudi Membela. Kita Membela Diri Sekuat Tenaga. Salah-satunya, FPI.
Mengapa aktivis FPI kerap terlibat kerusuhan atas nama agama? Mengapa FPI sering melakukan sweeping tempat-tempat maksiyat? Mengapa Burhanuddin Muhtadi menyebut FPI sebagai “polisi swasta”? Mengapa FPI kerap dituduh sebagai ormas Islam radikal dan anarkhis?
Masalah-masalah ini kalau Anda tanyakan ke MetroTV dan jongos China lainnya, juga ke orang-orang liberal, dan kawan-kawan, pasti tidak akan ketemu jawabannya. Sebab darah mereka memang mendidih ingin agar FPI segera dibubarkan. FPI adalah target utama penjajah untuk disingkirkan. Para komprador penjajah pasti membenci FPI.
Pada dasarnya, cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah TIDAK BAIK dilakukan. Oleh siapapun. Kalau suatu problem bisa diatasi dengan cara dialog atau berembug, itu lebih baik.
Tetapi sepanjang sejarahnya, Ummat Islam di Indonesia tak henti-hentinya dianiaya, diserang, dibantai, dimusnahkan kampung dan rumahnya, dan lain-lain. Itu terjadi dalam masa yang panjang. Mulai Tragedi Priok, Tragedi DOM di Aceh, Tragedi Banyuwangi, Situbondo, Tasikmalaya, Tragedi di Ambon, Maluku Utara, NTT, Timor-Timur, Sambas, Sampit, dan lainnya. Terlalu banyak tragedi kekerasan yang menimpa Ummat Islam sejak masa lalu. Di jaman Reformasi juga banyak muncul tragedi, terutama TRAGEDI TERORISME. Densus88 tidak henti-hentinya mengejar pemuda Islam, mengepung mereka, menyerang, membunuhi di jalan-jalan, memfitnah, menyiksa, dan seterusnya.
Ummat Islam sejak merdeka sampai saat ini dibesarkan dalam ASUHAN tragedi demi tragedi. Disinilah terlihat betapa jahat dan keji opini yang disebarkan oleh MetroTV, wartawan-wartawan atheis dan amoral, aktivis liberal terlaknat, aktivis HAM, demokrasi, politisi, tokoh agama, dll. dimana mereka SANGAT TIDAK ADIL dalam menilai dan memvonis. Termasuk di dalamnya, A. Syafi’i Ma’arif, tokoh sepuh yang sok bijak, tetapi sering berlaku sewenang-wenang. Katanya dia melek sejarah. Tetapi tidak pernah menakar harga darah dan air-mata Ummat Islam yang pernah tertumpah dalam tragedi demi tragedi itu. Itukah yang disebut Buya? Masya Allah.
Gerakan Islam seperti FPI, dan tidak semua gerakan Islam seperti ini. Mereka lahir di atas latar-belakang sejarah yang dipenuhi rasa sakit hati, dendam kepada orang kafir, rasa ketidak-percayaan kepada aparat, dan permusuhan total kepada aliran-aliran sesat. Karena mereka itulah yang dianggap sebagai SUMBER TRAGEDI kehidupan Ummat Islam di Indonesia.
Andaikan, di negeri ini, para aparat baik Polisi atau TNI, mereka benar-benar bertindak adil, jujur, tidak menjadi alat kekuasaan; tentu tidak perlu terjadi aneka rupa tragedi mengerikan yang menimpa Ummat Islam. Pada gilirannya, FPI tidak perlu mengibarkan “bendera perlawanan”.
Apa yang kini FPI lakukan, ialah pembelaan maksimal yang mampu mereka lakukan, untuk menjaga Ummat, membela Ummat, dan memelihara kehidupan Ummat Islam di negeri ini. Tidak bolehkah FPI membela Ummat ketika Ummat ini tidak lagi dibela oleh para aparat? Kalau cacing saja bisa membela diri, bagaimana dengan manusia? Bagaimana dengan FPI?
Surya Paloh, MetroTV, dan manusia-manusia atheis musuh Allah lainnya, mereka tak henti-hentinya mengecam FPI sebagai: ormas anarkhis, kelompok Islam radikal, ekstrim agama, dll. Tapi mereka tidak pernah mengaca diri, bahwa diri mereka adalah: Sekuler radikal, Liberal ekstrim, kapitalis egois, dan seterusnya. Hanya FPI yang boleh menyandang istilah radikal dan ekstrim. Sementara mereka lupa bila dirinya sendiri sekuler radikal, liberal ekstrim, kaki-tangan kapitalis.
Banyak orang kini berlinang air-mata menangisi korban dari jamaah Ahmadiyyah. Seakan, di dunia ini tidak pernah terjadi tragedi lebih mengerikan, selain peristiwa di Monas, peristiwa Cikeusik, Pemalang, dll. Padahal mereka belum tahu, bagaimana keadaan pemuda-pemuda Islam ketika dibantai di Tanjung Priok tahun 1984, bagaimana kejamnya DOM di Aceh, bagaimana sadisnya pembantaian di Poso oleh kaum Protestan, bagaimana sadisnya peristiwa di Lampung Selatan. Termasuk bagaimana perih dukanya pemuda-pemuda yang ditembaki aparat karena dituduh sebagai TERORIS. Darah warga Ahmadiyyah begitu harum di hidung mereka. Tetapi darah ratusan, ribuan Ummat Islam, terasa busuk di hidung mereka.
Pertanyaanya, katanya Indonesia ini bangsa berdasar PANCASILA. Dalam Pancasila itu ada sila: “Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Jika benar bangsa Indonesia berdasar Pancasila: “Mengapa mereka membiarkan terjadi kerusuhan Ambon, Maluku, Poso, Sampit, Sambas, dll. yang korban Ummat Islam di dalamnya hingga ribuan orang? Mungkin bisa mencapai puluhan ribu. Mengapa negara ini lebih mencintai sekularisme dan hedonisme, dan anti nilai-nilai Islam? Mengapa negara ini memakai APBN untuk merusak, memfitnah, memecah-belah, mengadu-domda Ummat Islam? Mengapa negara ini toleran kepada aliran-aliran sesat? Mengapa negara lebih mencintai para kapitalis China dan kapitalis asing lainnya, daripada putra bangsa sendiri seperti FPI? Mengapa negara lebih banyak menelan fatwa-fatwa kaum kafir liberal, daripada fatwa ulama yang lurus?” Dan lain-lain pertanyaan.
Jadi, benarkah bangsa ini berdasarkan Pancasila? Kalau benar, pasti negara sudah lama membubarkan Ahmadiyyah, karena mengganggu keyakinan mayoritas Ummat Islam Indonesia. Dan negara akan bersikap tanggap dan sigap atas segala masalah Ummat, tidak menanti FPI turun tangan. Itu kalau benar negara ini berdasarkan: “Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Selama bangsa ini tidak pernah mau melaksanakan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” secara murni dan konsekuen; yakinlah kerusuhan agama akan terus terjadi di negeri ini; yakinlah FPI akan terus eksis di bumi Nusantara ini; sebab mereka akan terus berusaha membela Islam, ketika negara tidak mau membela Islam.
Semoga Allah menolong hamba-hamba-Nya yang ikhlas berjuang dan membela agama-Nya. Allahumma amin.


Leave a Reply

Generation Platinum
™Pekanbaru The Best™

Move your mouse to go back to the page!
Gerakkan mouse anda dan silahkan nikmati kembali posting saya!